Harap-Harap Cemas di Tengah Hiruk Pikuk Tanah Abang

Para pedagang Tanah Abang mengaku penjualan mereka jelang Lebaran tahun ini mulai sepi, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 20 Mei 2019  |  16:13 WIB
Harap-Harap Cemas di Tengah Hiruk Pikuk Tanah Abang
Calon pembeli memilih bahan kain di Pusat Grosir Tanah Abang, Jakarta, Jumat (14/9/2018). - ANTARA/Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA — Sebagai pusat grosir terbesar di Asia Tenggara, Tanah Abang, memang kerap dikunjungi para pembeli, baik yang berniat untuk mencari barang kulakan maupun untuk dikenakan sendiri. Dari tahun ke tahun, keramaian di Tanah Abang juga menjadi pemandangan rutin tiap menjelang Lebaran.

“Cari apa kak? Dibeli kerudungnya. Mau yang mana?,” ujar para penjual di gerai-gerai Blok B.

Mereka saling bersahut-sahutan menyapa pembeli dan berusaha menarik minat para konsumen yang berkeliling untuk masuk ke toko mereka. Sepanjang menelusuri gerai di Tanah Abang, tulisan-tulisan promo Ramadan juga menyemarakkan suasana siang itu untuk menggaet minat pembeli.

Namun, di balik hiruk pikuk Ramadan kali ini, para pedagang Tanah Abang mengaku penjualan mereka jelang Lebaran tahun ini mulai sepi, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Ayu, Manager DL Muslim Clothing, salah satu lapak di Blok B Pasar Tanah Abang, menuturkan Ramadan tahun ini lebih sepi pembeli dibandingkan dengan tahun lalu. Biasanya, keramaian pembeli mulai terasa sejak pekan kedua sebelum mulai bulan puasa. Namun, tahun ini penjualan baju muslim turun sekitar 5%.

“Tahun ini, banyak pengunjung yang datang ke Tanah Abang, tetapi yang beli sedikit. Biasanya kami bisa jual dalam sehari Rp4 juta hingga Rp5 juta. Ini turun sekitar 5%,” katanya saat ditemui Bisnis, beberapa waktu lalu.

Calon pembeli memilih busana di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Kamis (10/5/2018)./ANTARA-Sigid Kurniawan

Menurutnya, penurunan penjualan terjadi karena masyarakat mulai berhemat di tengah kondisi perekonomian yang sedang menantang. “Saya kira baju baru pada masa Ramadan dan Lebaran sudah enggak jadi tren karena sekarang kan apa-apa susah, mahal. Orang cenderung nyimpen duit.”

Hal yang sama juga dikeluhkan oleh Dedi, pemilik toko Arafah yang menjual aneka sarung, peci dan baju koko. Meskipun tokonya juga menjual barang secara online, dia mengaku penjualannya turun sekitar 8% dibandingkan dengan masa Ramadan tahun lalu.

Saat ini, setiap harinya penjualan yang didapat hanya sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2,5 juta saja. Biasanya, dia mampu mengantongi sekitar Rp3 juta hingga Rp5 juta per hari.

“Permintaan dari luar kota yang bisa kami kirim juga sedikit sekali bila dibandingkan dengan tahun lalu,” ucapnya.

Berbagai strategi pun dilakukan para pelapak Tanah Abang, mulai dari menggeber diskon, hingga menawarkan aneka paket Lebaran. Mereka hanya berharap  agar kondisi lesunya penjualan akan berbalik setelah masyarakat menerima tunjangan hari raya (THR).

RITEL MODERN

Berbeda dengan para pelapak di Tanah Abang yang mengeluhkan sepinya pembeli, para pemain ritel modern besar masih optimistis dapat meraup lebih banyak pendapatan dengan memacu penjualan produk fesyen.

Presiden Direktur Sogo Indonesia Handaka Santosa menyampaikan kinerja perusahaanya saat berkunjung ke kantor Redaksi Bisnis Indonesia di Jakarta, Rabu (8/8). JIBI/Bisnis/Abdullah Azzam

Presiden Direktur PT Panen Lestari Handaka Santosa menargetkan omzet penjualan pakaian muslim pada Ramadan tahun ini bisa naik sebesar 15% hingga 20% dari tahun lalu. “Pakaian wanita jadi mayoritas penjualan di department store, busana muslim mencapai 35% dari total penjualan pakaian wanita. Ini karena pakaian seperti kaftan juga dipakai sebagai dresscode pesta.”

Ketua Umum Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia Budihardjo Iduansjah pun menuturkan, tahun ini penjualan fesyen muslim saat Ramadan ditargetkan tumbuh 15% atau setidaknya sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Bila dibandingkan dengan bulan biasa, penjualan produk fesyen saat Ramadan naik dua hingga tiga kali lipat,” ujarnya.

Kendati demikian, pihaknya tak memungkiri kondisi tahun ini bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya memang lebih sepi dari pembeli. “Banyak yang pada menahan untuk membeli sesuatu dahulu sebelum pengumuman hasil pemilu ini keluar.”

Ekonom Indef Bhima Yudhistira menuturkan naiknya harga tarif angkutan jelang Lebaran, khususnya tiket pesawat, membuat masyarakat mengalihkan belanja ke persiapan mudik dibandingkan dengan membeli pakaian baru.

Selain itu, daya beli masyarakat dipengaruhi inflasi pangan jelang Lebaran yang terpantau tinggi, khususnya untuk komoditas seperti minyak goreng, gula pasir, dan bawang putih. Inflasi April jelang Ramadan sebesar 0,44% menjadi indikasi kekhawatiran inflasi pada Juni dapat mencapai 0,7%.

“THR PNS naik 11%, tetapi THR swasta tidak mengalami kenaikan signifikan karena siklus bisnis yang sedang lambat. Penjualan ke ritel pun enggak terlalu banyak jadinya,” tuturnya.

Belum lagi, lanjutnya, penjualan pakaian muslim pada Ramadan tahun ini didominasi oleh konveksi skala rumahan yang dipasarkan via platform dagang-el dan media sosial.

“Tidak semua pembeli baju muslim lewat konvensional Tanah Abang,” ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ritel

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top