Ekonomi Turun 0,3 Persen, Jepang Terancam Resesi

Ekonomi Jepang diprediksi akan turun pada tiga bulan pertama tahun ini. Ekonom yang disurvei oleh Bloomberg News memprediksikan ekonomi Jepang akan turun sekitar 0,3 persen.
Nirmala Aninda | 16 Mei 2019 10:52 WIB
Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe (kiri) berjabat tangan dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, Washington, AS, Jumat (26/4/2019). - Reuters/Kevin Lamarque

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonomi Jepang diprediksi akan turun pada tiga bulan pertama tahun ini. Ekonom yang disurvei oleh Bloomberg News memprediksi ekonomi Jepang akan turun sekitar 0,3 persen.

Ada sejumlah faktor yang menyebabkan penurunan ini. Diantaranya adalah kebijakan pemerintah yang akan menaikkan pajak dari 8 persen menjadi 10 persen untuk mengurangi beban utang.

Beberapa kritikus yang menentang kenaikan pajak mengatakan, kebijakan ini akan membawa Jepang keluar dari jalur perbaikan ekonomi, terlebih lagi ketika prospek pertumbuhan terlihat rapuh akibat perlambatan global dan ketegangan yang meningkat pada perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China.

Pemerintah Jepang dan partai yang berkuasa beberapa kali memastikan bahwa tidak akan ada kenaikan pajak kecuali ada kejadian yang skalanya sebesar seperti krisis 2008.

Menteri Keuangan Jepang Taro Aso mengatakan bahwa kenaikan pajak dibutuhkan untuk membiayai jaring pengaman sosial (social safety net), dan pemerintah akan tetap mengimplementasikan kebijakan tersebut.

"Terlepas dari pertanyaan apakah guncangan hebat seperti yang terjadi dengan Lehman akan atau tidak akan terjadi, saat ini ekonomi Jepang berada dalam keadaan di mana kami cukup dapat menahan kenaikan pajak penjualan," kata Aso di parlemen dikutip dari Bloomberg, Kamis (16/5/2019).

Pada kesempatan yang lain, Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga mengatakan bahwa tanggung jawab pemerintah adalah untuk mempersiapkan lingkungan ekonomi yang ideal agar kenaikan pajak berjalan sesuai rencana.

Natsuo Yamaguchi, pemimpin partai koalisi Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, Komeito, menyatakan bahwa dia melihat tidak ada efek langsung pada rencana pajak penjualan pemerintah.

Menurutnya, kebijakan ini justru penting untuk melihat laporan ekonomi bulanan pemerintah, yang dapat dipublikasikan segera minggu depan.

Sementara itu, anggota parlemen dari Partai Liberal Demokrat yang berkuasa, Koichi Hagiuda, mengungkapkan bahwa data ekonomi yang buruk pada akhir kuartal ini dapat menempatkan wacana kenaikan pajak di posisi yang tidak menguntungkan.

Indeks koinsiden Jepang yang dirilis pada Senin (13/5/2019), salah satu indikator terluas dari kegiatan ekonomi saat ini, menggambarkan kondisi yang memburuk untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir. Bahkan mengindikasikan peluang resesi bagi ekonomi terbesar ketiga dunia tersebut.

Tolok ukur utama lainnya adalah laporan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal I/2019 yang rencananya akan diumumkan pada 20 Mei mendatang.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jepang, shinzo abe, resesi, ekonomi jepang, krisis

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup