Perang Dagang Trump Buka Pintu Ekspor CPO RI ke China

Kebijakan Beijing yang akan meningkatkan bea masuk produk kedelai asal AS, dipastikan membuat CPO dilirik sebagai produk substitusi minyak kedelai.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 15 Mei 2019  |  13:24 WIB
Perang Dagang Trump Buka Pintu Ekspor CPO RI ke China
Investasi dan transaksi perdagangan antara Indonesia dan Uni Eropa. - Bisnis/Tri Utomo

Bisnis.com, JAKARTA — Perang dagang dengan pemerintah Amerika Serikat mendorong pemerintah China untuk menaikkan tarif impor kedelai ke negeranya. Hal ini membuka pintu bagi ekspor kelapa sawit Indonesia ke Negeri Tiongkok.

Ekonom Indef Ahmad Heri Firdaus mengatakan, perang dagang antara AS dan China akan menjadi peluang bagi RI untuk mengalihkan ekspor CPO dan produk turunannya apabila resmi dihambat oleh Uni Eropa.

Negeri Panda saat ini sedang berusaha mengalihkan konsumsi energinya dari berbasis fosil menjadi berbasis produk nabati yang lebih damah lingkungan. Selama ini, China menggunakan minyak kedelai sebagai salah satu bahan bakar terbarukan.

Namun, dengan kebijakan Beijing yang akan meningkatkan bea masuk produk kedelai asal AS, dipastikan akan membuat CPO dilirik sebagai produk substitusi minyak kedelai.

“Tentu kondisi yang ada saat ini, terakit dengan perang dagang, harus dimanfaatkan oleh Indonesia [untuk memacu ekspor CPO]. Kita sejauh ini sudah ada perjanjian pembelian biodiesel dan CPO oleh China. Tinggal kita tingkatkan kerja sama dan volumenya, karena potensi konsumsi negara ini besar sekali,” katanya, Selasa (14/5).

Dorongan dari potensi kenaikan permintaan China terhadap produk CPO, menurutnya, mulai tampak dari pergerakan harga CPO dalam 2 hari terakhir yang berangsur-angsur menguat.

Hal itu menandakan adanya potensi peralihan konsumsi China dari minyak kedelai ke minyak nabati lain seperti CPO.

Penentuan penerapan skema renewable energy directive (RED) II dan indirect land use change (ILUC) oleh Uni Eropa (UE) dijadwalkan keluar pada hari ini, Rabu (15/5). Apabila kebijakan ini resmi diterapkan, hampir dapat dipastikan ini akan menjadi sentimen negatif bagi ekspor dan harga CPO, sehingga akhirnya akan berdampak kepada kinerja dagang RI.

Berdasarkan data Bursa Malaysia Berhad, harga CPO kontrak pengiriman Juli 2019 menguat 28,00 poin ke posisi 1.985 ringgit per ton dari hari sebelumnya. Meskipun demikian, harga CPO tersebut masih berada pada level yang mendekati posisi terendahnya dalam 2 tahun terakhir.

Bagaimanapun, di tengah adanya titik cerah kinerja ekspor CPO itu, Heri menyarankan agar pelaku usaha dan pemerintah tidak hanya mengandalkan China sebagai satu-satunya tumpuan ekspor CPO apabila UE menerapkan RED II dan ILUC.

Menurutnya, ekspor CPO dan produk turunannya harus dialihkan dan digenjot juga ke negara-negara lain.

“Kalau untuk negara maju selain UE, bisa kita arahkan untuk ekspor produk CPO berbasis energi seperi biofuel. Sementara itu, [untuk ke] negara berkembang atau pasar baru terutama negara berkembang di Afrika dan Amerika Latin, bisa kita arahkan untuk produk campuran makanan dan farmasi,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor cpo, perang dagang AS vs China

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top