Jelang Mudik Lebaran, Pekerjaan Rumah Jalur Darat Malah Menumpuk

Ada beberapa kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan perusahaan angkutan umum antarkota antarprovinsi (AKAP).
Rinaldi Mohammad Azka | 13 Mei 2019 10:12 WIB
Ilustrasi - Kendaraan antre di gerbang tol Cipali Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, Kamis (29/6). Memasuki H4 Lebaran, arus balik dari Jawa Tengah menuju Jakarta masih terpantau padat dan puncak arus balik diprediksi terjadi pada H5 dan H6. - Antara/Dedhez Anggara

Bisnis.com, JAKARTA - Menjelang mudik Lebaran 2019, sejumlah perusahaan otobus (PO) mengingatkan bahwa pekerjaan rumah di jalur darat masih banyak dan pemerintah diminta fokus menyelesaikannya sebelum arus puncak mudik Lebaran dimulai.


Pemilik Perusahaan Otobus [PO] Sumber Alam, Anthony Steven Hambali menuturkan bahwa ada beberapa kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan perusahaan angkutan umum antarkota antarprovinsi (AKAP).


"Untuk kebijakan pemerintah, saya berharap yang satu arah di tol keluar dari Jakarta ditinjau kembali, karena untuk pengembalian armada ke Jakarta akan terhambat," tuturnya kepada Bisnis, Minggu (12/5/2019).


Dia mengusulkan agar pemerintah menggunakan rekayasa lalu lintas berupa contra flow dan satu lajur ke Jakarta bisa dibuka khusus untuk kendaraan umum dengan pelat kuning. "Dengan demikian, ini akan mendidik orang untuk menggunakan angkutan umum," imbuhnya.


Sistem one way atau satu arah ini akan diberlakukan untuk arus mudik mulai dari Cikarang Utama sampai dengan KM 262 atau Brebes Barat. Kendaraan dari arah timur, dari Brebes Barat akan keluar menggunakan jalan arteri atau jalan negara sampai ke Cirebon kemudian Indramayu sampai ke Jakarta. 


Sistem satu arah Ini mulai berlaku pada 30 Mei--2 Juni dan berlangsung selama 24 jam penuh. Sementara itu, pada arus balik nanti, one way akan mulai dari Palimanan sampai KM 29, sehingga masyarakat yang dari Jakarta ke arah Bekasi masih dapat menggunakan jalan tol.

Selain itu, Anthony memberikan catatan lain yang harus diperhatikan jelang arus mudik 2019 ini, yakni pengecoran di jalan di daerah Banyumas, Jawa Tengah, harus harus dipercepat. Pasalnya, jika tak selesai tepat waktu, daerah tersebut akan menjadi sumber kemacetan di jalur jalan nasional.

"Untuk wilayah kami di Jawa Tengah yang rawan kecelakaan lalu lintas adalah jalan raya Bumiayu-Paguyangan sekitar fly over; wilayah Tegal, Jalan Kesambi-Margasari; dan wilayah Purwokerto, Jalan raya Tambak-Sampang. Perlu memperbanyak atau mengganti rambu-rambu lalu lintas baik rambu petunjuk ataupun peringatan," terangnya.


Daerah rawan kecelakaan lainnya, tuturnya, adalah daerah tol Cikopo-Palimanan (Cipali) yang minim penernangan sehingga perlu kewaspadaan ekstra dari pengemudi di jalur tersebut.


Dia menjelaskan, pengaturan jalur lalu lintas di luar tol juga perlu perhatian pemerintah pusat maupun daerah, sebab dengan adanya tol Trans-Jawa ini maka rawan kemacetan akan pindah di jalur-jalur alternatif. "Apalagi setiap tahunnya pemudik motor dan mobil pribadi setiap tahunnya meningkat sangat signifikan," imbuhnya.


Dia menuturkan, pihaknya sehari-hari mengoperasikan sekitar 50 armada dan saat Lebaran ditambah hingga menjadi 103 armada.


"Penambahan armada tentu ada, dari armada harian, kita akan menambah unit operasional sebanyak 100%, sehingga harapannya dapat melayani lonjakan penumpang hingga 2 kali lipat hari biasa," terangnya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
mudik lebaran, otobus, satu arah, one way

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup