Menghitung Dampak dari Perang Dagang

Ancaman baru kenaikan tarif terhadap impor China yang disampaikan Presiden AS Donald Trump pekan ini menandakan peningkatan baru dalam sengketa perdagangan dan kemunduran negosiasi.
Nirmala Aninda | 07 Mei 2019 17:47 WIB
Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Presiden China Xi Jinping saat bertemu di KTT G20 di Hamburg, Jerman, pada 8 Juli 2017. - Reuters/Saul Loeb

Bisnis, JAKARTA - Ancaman baru kenaikan tarif terhadap impor China yang disampaikan Presiden AS Donald Trump pekan ini menandakan peningkatan baru dalam sengketa perdagangan dan kemunduran negosiasi.

Perang tarif antara Washington dan Beijing berlangsung sejak Juli tahun lalu. Tepatnya sejak pemberlakukan tarif perdana terhadap impor China senilai US$34 miliar, yang kemudian disusul dengan tambahan atas impor senilai US$16 miliar pada Agustus dan US$200 miliar pada September.

Tahun lalu, Trump juga sempat mengancam akan menaikkan tarif impor dari 10 persen menjadi 25 persen pada Maret, namun kebijakan ini tertunda sambil menunggu hasil dari perundingan dagang yang sedang berlangsung.

Dalam perkembangan terakhir, Trump memancing ketegangan perdagangan dengan ancaman bahwa tarif baru akan diberlakukan pada Jumat (10/5/2019), dan menambah daftar produk tambahan yang menjadi target tarif impor senilai US$325 miliar.

Mengutip dari Reuters, jika kenaikan tarif 25 persen serta penambahan target tarif diberlakukan maka seluruh pengiriman barang dari China ke AS akan dikenakan biaya cukai.

Perang tarif antara China dan AS selama setahun belakangan telah memberikan dampak siginifikan pada aktivitas perdagangan kedua negara.

Data bea cukai China menunjukkan ekspor ke Amerika Serikat pada Maret turun 47 persen dari Juni 2018, yang merupakan bulan terakhir sebelum putaran pertama pemberlakuan tarif dimulai.

Sementara itu, impor dari AS pada Maret tercatat 17 persen lebih rendah. Secara kumulatif, pada kuartal pertama tahun ini impor China turun hampir sepertiga secara tahunan, sementara ekspor turun hampir sepersepuluh.

"Dalam dolar, penurunan perdagangan dua arah antara kedua negara tercatat sebesar US$25 miliar mewakili 0,5 persen dari total perdagangan global," seperti tertulis dalam laporan Reuters, Selasa (7/5/2019).

Lemahnya pengiriman ke China diperluas dengan penurunan permintaan domestik di Beijing menyusul arahan pemerintah untuk menekan risiko keuangan.

Sebagian besar penurunan pada ekspor AS ke China tercatat pada komoditas bahan mentah dan makanan. Menurut Oxford Economics, kedua produk tersebut mewakili sekitar sepertiga dari total ekspor AS.

Namun, untuk perusahaan AS dari sektor lain, termasuk Caterpillar dan Apple, juga melaporkan penurunan permintaan dari China yang berdampak pada laporan penjualan perusahaan.

Sementara itu, dari semua komoditas ekspor China ke AS, produk mesin dan kelistrikan mengalami dampak negatif terbesar.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup