Konstruksi Tol Trans Sumatra Lebih Mahal dibanding Jawa. Mengapa?

Sistem vakum diterapkan untuk mengeluarkan kadar air dan udara di dalam tanah, sehingga memudahkan proses konsolidasi tanah yang hanya butuh 3 bulan.
Tim Jelajah Sumatra 2019
Tim Jelajah Sumatra 2019 - Bisnis.com 02 Mei 2019  |  17:20 WIB
Konstruksi Tol Trans Sumatra Lebih Mahal dibanding Jawa. Mengapa?
Salah satu ruas jalan tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang di Tulang Bawang, Lampung, Rabu (1/5/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, PALEMBANG --- Melintas jalan tol di Sumatra dari Bakauheni hingga Indralaya memberikan pengalaman berbeda bagi Tim Jelajah Infrastruktur Sumatra. Selain membelah perkebunan, sebagian tol Trans Sumatra ternyata dibangun di atas rawa dan gambut.

Di KM 190 ruas Terbanggi Besar-Pematang Panggang, jalan tol membentang di atas rawa. Masyarakat Kabupaten Tulang Bawang menyebut kawasan rawa ini sebagai Sungai Tak Bertepi.

Project Manager Hutama Karya Hasan Turcahyo mengatakan perseroan menggunakan prefabricated vertical drain (PVD) untuk membangun jalan tol di atas lahan rawa di Sumatra. Ruas Palembang-Indralaya menjadi jalan tol pertama yang menggunakan metode ini, disusul ruas Terbanggi Besar-Pematang Panggang.

Menurut Hasan, sistem vakum diterapkan untuk mengeluarkan kadar air dan udara di dalam tanah, sehingga memudahkan proses konsolidasi tanah. Dengan teknologi PVD, konsolidasi tanah hanya membutuhkan waktu 3 bulan.

"Tentu saja biaya pembangunannya juga lebih mahal, 1,5 kali lebih mahal dibandingkan dengan cara biasa [at grade]," ujarnya kepada Bisnis, Kamis (2/5/2019).

Hasan menuturkan, perseroan merogoh kocek Rp100 miliar untuk setiap satu kilometer yang dibangun dengan sistem vakum. Di ruas Palembang-Indralaya, 18 kilometerr jalan tol dibangun dengan sistem vakum. Saat ini, jalan tol Palembang-Indralaya sudah beroperasi sepanjang 22 kilometer.

Selain rawa, lahan gambut dan kebun kelapa sawit juga menjadi pemandangan bagi Tim Jelajah Infrastruktur Sumatra saat melintas di ruas Pematang Panggang-Kayu Agung, tepatnya di STA 162 hingg STA 168.  Hasan mengatakan, konstruksi di atas lahan gambut menggunakan pile slab atau tiang pancang karena kedalaman rawa mencapai 32-52 meter.

Berdasarkan data HK, investasi pembangunan tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang dan Pematang Panggang-Kayu Agung mencapai Rp21,95 trilun. Dengan panjang jalan tol 185 kilometer, investasi per kilometer mencapai Rp118,64 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jelajah Infrastruktur Sumatra 2019

Program liputan Jelajah Infrastruktur Trans Sumatra Tahap I ini didukung oleh:

Sumber :

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top