Adaro Jajaki Pasar Baru Ekspor Batu Bara

PT Adaro Energy Tbk tengah menjajaki sejumlah pasar baru untuk ekspor batu bara seiring dengan turunnya permintaan dari Thailand.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 30 April 2019  |  17:51 WIB
Adaro Jajaki Pasar Baru Ekspor Batu Bara
Logo PT Adaro Energy, Tbk. - Reuters/Beawiharta

Bisnis.com, JAKARTA - PT Adaro Energy Tbk tengah menjajaki sejumlah pasar baru untuk ekspor batu bara seiring dengan turunnya permintaan dari Thailand.

Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk Garibaldi Thohir mengatakan permintaan batu bara dari Thailand mengalami penurunan karena kebutuhan negara tersebut yang mulai beralih ke energi baru terbarukan dalam memenuhi kebutuhan listrik. 

Menurutnya, Vietnam menjadi pasar baru terdekat yang kemudian dijajaki untuk menggantikan penurunan terhadap ekspor ke Thailand. Vietnam sebenarnya telah menjadi pasar eskpor batu bara Adaro, namun perseroan berencana memperdalam penetrasinya di negara tersebut.

“Jadi Vietnam lagi bangun PLTU, Kamboja juga, Malaysia juga bangun, Filipina juga bangun, Bangladesh juga lagi bangun. Jadi secara overall, demand itu masih cukup ada lah,” katanya, Selasa (30/4/2019). 

Garibaldi mengatakan perseroan tetap menyesuaikan serapan batu bara untuk produksi dalam negeri atau domestic market obligation (DMO) berdasarkan target yang diberikan pemerintah yakni 25% dari total produksi.  Adapun, produksi batu bara pada 2019 ditargetkan mencapai 54 juta ton hingga 56 juta ton.

Pada 2018, total volume penjualan batu bara mencapai 54,39 metric ton atau naik 5% dibandingkan dengan tahun lalu. Penjualan ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia meliputi 39% dari total penjualan. Sisanya, 30% penjualan ke Asia Timur, China 14%, dan India 11%.

Menurutnya, perseroan juga berupaya untuk melalukan efisiensi lantaran harga batu bara yang kerap berfluktuasi. Seperti misalnya pada 2018, yang dinilai menjadi tahun dengan kondisi yang tidak mudah.

Meskipun belum memberikan laporan kinerja pada kuartal I/2019, namun dipastikan kondisinya akan tetap menantang sama seperti tahun lalu. Walaupun demikian, dia optimistis permintaan batu bara, khususnya di kawasan Asia Tenggara, akan tetap tinggi.

“Awal tahun 2018 harga batu bara kan bagus, tetapi tiba-tiba Oktober-November menurun drastis, awal Januari 2019 harga masih kurang kondusif, tetapi Februari balik lagi,” katanya.

Menurutnya, harga batu bara memang berada di luar kontrol perseroan. Hal tersebut yang membuat perseroan terus melakukan efisiensi untuk menekan kondisi yang kurang kondusif.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batu bara, adaro

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup