IMF: Ekonomi Iran bisa Menyusut 6 Persen Gara-Gara Sanksi AS

Ekonomi Iran diperkirakan akan menyusut untuk tahun kedua berturut-turut, sedangkan inflasi dapat mencapai 40 persen di tengah upaya Iran mengatasi dampak dari sanksi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat (AS).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 29 April 2019  |  17:01 WIB
IMF: Ekonomi Iran bisa Menyusut 6 Persen Gara-Gara Sanksi AS
Bendera Iran berkibar di lapangan minyak Soroush di Teluk Persia, Iran, Senin (25/7/2005), - Reuters/Raheb Homavandi

Bisnis.com, JAKARTA – Ekonomi Iran diperkirakan akan menyusut untuk tahun kedua berturut-turut, sedangkan inflasi dapat mencapai 40 persen di tengah upaya Iran mengatasi dampak dari sanksi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat (AS).

Menurut estimasi Dana Moneter Internasional (IMF), ekonomi Iran menyusut 3,9 persen pada 2018 dan diperkirakan akan menciut 6 persen pada 2019.

Pemerintah AS, yang memberlakukan kembali sanksi terhadap ekspor minyak Iran pada November 2018, telah menegaskan kepada para importir minyak Iran untuk menghentikan pembelian mereka pada Mei jika tidak ingin menghadapi sanksi.

Langkah ini serta merta mengakhiri keringanan yang diberikan AS kepada para pembeli untuk dapat terus mengimpor minyak dalam volume yang ditentukan.

“Penerapan kembali sanksi berikut penghapusan keringanan jelas akan memiliki dampak negatif tambahan pada ekonomi Iran baik dalam hal pertumbuhan dan inflasi, dimana inflasi bisa mencapai 40 persen atau bahkan lebih tahun ini [2019],” terang Jihad Azour, Direktur untuk urusan Asia Tengah dan Timur Tengah IMF, sebagaimana diberitakan Reuters.

Kendati demikian, tambah Azour, proyeksi tersebut, bagaimana pun, dibuat sebelum keringanan sanksi oleh AS terhadap Iran dihapuskan.

Pada awal April, seorang pejabat pemerintah AS mengungkapkan sanksi AS terhadap Iran telah berdampak kerugian senilai lebih dari US$10 miliar dalam hal pendapatan minyak.

Sementara itu, nilai tukar mata uang Iran, rial, terhadap dolar AS telah merosot lebih dari 60 persen tahun lalu. Hal ini berdampak pada perdagangan luar negeri Iran serta meningkatkan inflasi tahunan.

Nilai tukar resmi untuk rial ditetapkan sebesar 42.000 rial terhadap dolar AS, tetapi kurs pasarnya berada di sekitar 144.000 rial terhadap dolar AS pada Minggu (28/4/2019), menurut situs web valuta asing Bonbast.com.

“Iran harus berupaya untuk menghilangkan gap yang saat ini ada antara nilai tukar pasar dan nilai tukar resmi,” ujar Azour.

“Dengan menyelaraskan pasar dan nilai tukar resmi akan membantu mengendalikan inflasi serta akan mengurangi tekanan pada nilai tukar,” tambahnya.

Pelemahan nilai tukar rial, dari level sekitar 43.000 pada akhir tahun lalu, telah mengikis nilai simpanan masyarakat Iran sekaligus memicu kepanikan untuk pembelian dolar AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi, iran

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top