Belajar Sampai Negeri China, RI Dapat Wawasan Soal Smart Maritime

China berbagi pengalaman kepada Indonesia tentang teknologi Smart Maritime. Teknologi ini berbasis teknologi informasi dan berguna untuk memudahkan kapal berlayar dengan aman dan selamat.
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 31 Maret 2019  |  20:13 WIB
Belajar Sampai Negeri China, RI Dapat Wawasan Soal Smart Maritime
Kapal petugas melakukan pemanduan dan penundaan kapal di perairan pandu luar biasa Selat Malaka dan Selat Singapura di Batam, Kepulauan Riau, Senin (10/4). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA -- China berbagi pengalaman kepada Indonesia tentang teknologi Smart Maritime. Teknologi ini berbasis teknologi informasi dan berguna untuk memudahkan kapal berlayar dengan aman dan selamat.

Sebanyak 12 orang pegawai Kementerian Perhubungan yang terdiri atas perwakilan Ditjen Perhubungan Laut dan Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustikom) menjadi peserta Workshop on the Smart Maritime Management and Services in the Straits of Malacca and Singapore.

Workshop yang berlangsung di di Guangzhou selama 25 hingga 29 Maret 2019 itu diikuti oleh tiga negara pantai, yakni Indonesia, Malaysia, dan Singapura, serta perwakilan dari China.

Sekretaris Ditjen Perhubungan Laut Arif Toha mengatakan keselamatan pelayaran menjadi isu penting bagi transportasi laut tiga negara pantai.

Pada saat yang sama, perkembangan teknologi informasi yang pesat memudahkan pengambilan data yang berguna untuk menjaga dan meningkatkan keselamatan pelayaran di Selat Malaka dan Selat Singapura.

"Teknologi Smart Maritime yang diperkenalkan oleh China tentunya menarik. Keunggulannya adalah memudahkan port state control untuk memantau perkembangan lalu lintas kapal di perairan," kata Arif dalam siaran pers, Minggu (31/3/2019).

Dengan mengakses aplikasi pada smartphone dapat diperoleh informasi cuaca, arus, tinggi gelombang, jenis kapal, jumlah anak buah kapal, dan tujuan kapal.

Aplikasi juga dapat berfungsi sebagai command center (emergency) apabila terjadi hal yang tidak terduga di perairan. 

Menurut Arif, untuk bisa membangun smart maritime, dibutuhkan infrastruktur data yang cepat dan dapat menjangkau ke seluruh wilayah Indonesia. Pertukaran data antarinstansi juga diperlukan untuk mewujudkan smart maritime di Indonesia.
 
Indonesia, Malaysia, dan Singapura memberikan perhatian pada isu keselamatan pelayaran dan perlindungan lingkungan maritim di Selat Malaka dan Selat Singapura. Perkembangannya selalu dibahas melalui forum Tripartite Technical Expert Group (TTEG) setiap tahun.
 
Melalui forum itu, ketiga negara pantai serta dengan  dukungan para pemangku kepentingan memastikan keselamatan, keamanan dan perlindungan lingkungan di salah satu jalur pelayaran internasional tersibuk di dunia itu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
maritim, selat malaka

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top