Operasional Kilang LNG Sengkang Masih Tertahan Urusan Lingkungan

Fasilitas kilang LNG yang dikelola PT Energi Sengkang dan terafiliasi dengan Energy Equity Epic belum dapat beroperasi karena terkendala masalah lingkungan.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 31 Maret 2019  |  17:59 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Fasilitas kilang LNG yang dikelola PT Energi Sengkang dan terafiliasi dengan Energy Equity Epic belum dapat beroperasi karena terkendala masalah lingkungan.

Hal itu diungkapkan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar. Dia mengatakan saat ini, operator sedang berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

"Mereka masih urus dengan KLHK," tuturnya pekan lalu.

Menurutnya, LNG yang ada di kilang tersebut nantinya akan dijual dengan skema pasar biasa. Hanya saja, selama ini produksi gas Blok Sengkang sebanyak 60 MMscfd disalurnya seluruhnya oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).

Desember silam, Kementerian ESDM memperpanjang kontrak Blok Sengkang selama 20 tahun kepada Energy Equity Epic, yang merupakan operator eksis blok tersebut. Namun, skema kontrak diubah dari biaya operasi yang dapat dikembalikan (cost recovery) menjadi gross split. Kontrak baru itu akan mulai efektif berlaku pada 24 Oktober 2022.

Blok Sengkang mempunyai cadangan terbukti gas bumi sebesar 800 miliar kaki kubic (bcf) dan memiliki cadangan sumber daya sebanyak 2 triliun kaki kubik (tcf).

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis.com, konstruksi fisik fasilitas kilang LNG maupun sarana penunjang dimulai sejak 2011, tetapi saat ini telah dihentikan oleh otoritas terkait lantaran terbentur permasalahan perizinan yang krusial, yakni perihal pemanfaatan hutan lindung mangrove pesisir Wajo.

Lokasi pembangunan kilang LNG itu ternyata berada dalam kawasan hutan lindung dengan luasan mencapai 21,17 hektare, diperkuat oleh SK Menteri Kehutanan No.434/Menhut-II/2009.

Mengacu pada fakta tersebut, Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup (DPLH) Sulsel akhirnya melakukan penyegelan pada 9 April 2018 dan menetapkan penghentian sementara segala aktivitas pembangunan South Sulawesi LNG.

Penyegelan tersebut akan terus berjalan hingga South Sulawesi LNG mengantongi izin pinjam pakai kawasan hutan (IPPKH) mengingat lokasi operasional yang berada pada kawasan hutan lindung mangrove.

Setidaknya terdapat lima kecamatan di Wajo yang memiliki wilayah hutan lindung untuk pesisir yakni Sajoanging, Pitumpanua, Maniangpajo, Gilireng serta Keera yang menjadi titik pembangunan proyek South Sulawesi LNG, khusus di Keera sendiri, luasan hutan lindung mencapai 5.136 hektare termasuk di dalamnya lokasi South Sulawesi LNG.

Sebelumnya, dalam penandatanganan kontrak gross split Blok Sengkang di kantor Kementerian ESDM, Selasa (11/12/18), President Energy Equity Epic Andi Riyanto menjelaskan bahwa target peningkatan produksi hingga 200 MMscfd tersebut akan dilakukan secara bertahap selama 5 tahun.

Pada 2020, pihaknya mulai melakukan survei seismik tiga dimensi dan melakukan pengeboran sekitar dua sumur eksplorasi.

Sejauh ini, Energy Equity sudah mulai menjajaki calon pembeli untuk potensi penambahan produksi gas tersebut. Salah satu calon pembeli potensial yang sudah dijajaki adalah perusahaan daerah milik Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

"Kami semacam MoU dahulu dengan calon-calon pembeli . Kami matangkan dengan SKK Migas, berapa banyak volume, jangka waktu berapa tahun. Baru bisa kami hitung keekonomian. Namun, harga gas akan ditentukan secara bisnis.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kilang gas

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top