Sistem Transportasi di Jabodetabek Dikritik, Begini Jawaban BPTJ

Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) menilai, tidak ada tumpang tindih antartransportasi umum di kawasan Jabodetabek.
Rinaldi Mohammad Azka | 21 Maret 2019 16:06 WIB
Kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) rute Velodrome-Kelapa Gading memasuki Stasiun Velodrome Jakarta, Senin (25/2/2019). - ANTARA/Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) menilai, tidak ada tumpang tindih antartransportasi umum di kawasan Jabodetabek. Seluruh pembangunan dan implemetasinya disebut sudah sesuai rencana induk yang ditetapkan.


Kepala BPTJ Bambang Prihartono menuturkan pembangunan infrastruktur transportasi yang dilakukan di wilayah DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) sudah sesuai dengan rencana induk transportasi Jabodetabek (RITJ) yang disahkan dalam peraturan presiden pada 2018. 


"Jadi RITJ dari 2018 sampai 2029 itu 10 tahun. Oleh karena itu, apa yang dikerjakan ini sudah sesuai dengan rencana induk. Kalau sudah sesuai dengan rencana induk, tentu tidak ada tumpang tindih," ungkapnya, seusai mengikuti diskusi 'Membedah Peran Startegis BPTJ', di Jakarta, Kamis (21/3/2019).


Dia juga mengakui bahwa pembangunan light rapid transit (LRT) dan mass rapid transit (MRT) saat ini memang terkesan tumpang tindih, tetapi dia meyakinkan bahwa secara pemetaan RITJ, pembangunan tersebut sudah tepat.


Adapun, ketika memang dirasa ada transportasi massal yang tumpang tindih, pihaknya segera akan mengevaluasinya. "Kenapa bisa tumpang tindih? Karena waktu pembangunannya beda-beda, dahulu hanya ada busway tetapi beda dengan kebutuhan busway sekarang," imbuhnya.


Dia mencontohkan koridor satu busway yang melayani trayek Blok M--Kota berimpitan dengan jalur MRT Lebak Bulus--Dukuh Atas. Menurutnya, ketika dilihat dengan skala transportasi lebih besar, koridor satu dapat menghubungkan tidak hanya Blok M dan Bundaran HI tetapi rute Trans Jakarta lainnya juga saling terhubung.


Dia melanjutkan, nanti perannya bus Trans Jakarta tersebut akan sebagai pengumpan utama bagi MRT, sama seperti LRT yang membawa penumpang dari Bogor dan Bekasi.


"Begitu juga dari yang Kelapa Gading, masuk ke MRT, karena MRT ini jadi tulang punggungnya. MRT ini kan ada 2 yakni trayek utara-selatan dan nanti disiapkan pembangunan barat-timur," jelasnya.


Di sisi lain, dia menyebutkan keberadaan Metro Mini dan Mikrolet serta angkutan kecil lainnya akan berfungsi sebagai angkutan pengumpan yang melayani sampai dengan tempat tinggal masyarakat. Perannya sebagai first mile dan last mile dari aktivitas transportasi sebagaimana rencananya untuk ojek online (ojol).


"Oleh karena itu, kita juga sudah minta pemerintah daerah seperti Bekasi dan Tangerang Selatan, sudah mulai memikirkan angkutan lanjutan. Misalnya di Tangsel ada rencana Trans Anggrek, kemudian di Tangerang ada Trans Tayu, di Bekasi ada Trans Patriot. Itu adalah transportasi-transportasi lanjutan sampai ke pemukiman," paparnya.


Dengan demikian, peran sebagai angkutan pengumpan tersebut dilakukan juga oleh ojol. Keberadaan ojol yang saat ini digunakan untuk angkutan jarak jauh, menurutnya, hanya akan sementara, sebab dengan selesainya RITJ, angkutan massal Jabodetabek akan terintegrasi dan lebih nyaman.


"Itulah nanti tugasnya BPTJ untuk mengintegrasikan semuanya, makanya BPTJ perlu mengkoordinasikan semua tingkat II khususnya kota, kabupaten untuk memikirkan itu," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
BPTJ-Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek, transportasi

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top