Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Revolusi Industri, Sederet Kebijakan Dorong Making Indonesia 4.0

Sejak diluncurkannya Making Indonesia 4.0 oleh Presiden Joko Widodo pada April 2018, Kemenperin mengklaim telah menghasilkan beberapa kebijakan strategis dalam upaya implementasi program prioritas peta jalan tersebut. Apa saja?
Fatkhul Maskur
Fatkhul Maskur - Bisnis.com 20 Maret 2019  |  08:53 WIB
Wakil Presiden Jusuf Kalla (kanan) menjadi pembicara dalam Seminar dan Dialog Nasional Penyiapan Sumber Daya Manusia Indonesia Menghadapi Revolusi Industri ke-4 di Jakarta, Senin (14/1/2019). - ANTARA/Aprillio Akbar
Wakil Presiden Jusuf Kalla (kanan) menjadi pembicara dalam Seminar dan Dialog Nasional Penyiapan Sumber Daya Manusia Indonesia Menghadapi Revolusi Industri ke-4 di Jakarta, Senin (14/1/2019). - ANTARA/Aprillio Akbar

Bisnis.com, JAKARTA - Sejak diluncurkannya Making Indonesia 4.0 oleh Presiden Joko Widodo pada April 2018, Kemenperin mengklaim telah menghasilkan beberapa kebijakan strategis dalam upaya implementasi program prioritas peta jalan tersebut. Apa saja?

"Kemenperin telah menghasilkan beberapa kebijakan strategis dalam upaya implementasi program prioritas peta jalan tersebut," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara di Jakarta, Selasa (19/3/2019).

Pertama, perumusan insentif fiskal berupa super deductible tax untuk perusahaan yang berinvestasi melaksanakan kegiatan litbang inovasi serta pendidikan dan pelatihan vokasi.

Kedua, menelurkan program e-Smart IKM memanfaatkan e-commerce melalui marketplace sehingga dapat memperluas pasarnya. “Kami juga terus mendorong kegiatan rekayasa litbang dan memfasilitasi pembangunan pusat inovasi industri 4.0.”

Ketiga, melakukan penunjukkan Lighthouse of Industry 4.0 sebagai upaya pemilihan perusahaan-perusahaan champion pada masing-masing sektor prioritas untuk menjadi percontohan penerapan teknologi industri4.0.

Keempat, melaksanakan pelatihan untuk mencetak manager dan tenaga ahli transformasi industri 4.0, serta saat ini proses perumusan Indi 4.0 yakni sebuah indeks acuan bagi industri dan pemerintah dalam mengukur tingkat kesiapan industri bertransformasi menuju industri 4.0 di Indonesia.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebutkan hasil riset McKinsey, Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara dengan optimisme tertinggi dalam menerapkan industri 4.0, yakni sebesar 78%. Di atas Indonesia terdapat Vietnam sebesar 79%, sedangkan di bawah Indonesia ditempati Thailand sekitar 72%, Singapura 53%, Filipina 52% dan Malaysia 38%.

“Survei ini dilakukan kepada supplier teknologi dan manufaktur di Asean. Dari jawaban mereka, sebanyak 93% mengatakan bahwa industri 4.0 adalah peluang, kemudian tingkat kesadaran untuk menerapkan sebesar 81%, dan pertumbuhan dalam optimisme 63%,” paparnya.

Riset McKinsey juga menunjukkan, industri 4.0 akan berdampak signifikan pada sektor manufaktur di Indonesia. Misalnya, digitalisasi bakal mendorong pertambahan US$150 miliar atas hasil ekonomi Indonesia pada 2025. Sekitar seperempat dari angka tersebut, atau senilai US$38 miliar, dihasilkan oleh sektor manufaktur.

“Industri manufaktur selama ini konsisten menjadi tulang punggung bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Ini dilihat dari kontribusi besarnya terhadap produk domestik bruto (PDB) yang mencapai lebih dari 19%,” ungkap Airlangga.

Untuk itu, guna mengoptimalkan kinerja industri manufaktur nasional, diperlukan upaya akselerasi penerapan teknologi digital. Adapun teknologi yang menjadi penentu keberhasilan pada adaptasi industri 4.0, antara lain internet of things, big data, cloud computing, artificial intelligence, mobility, virtual and augmented reality, sistem sensor dan otomasi, serta virtual branding.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Revolusi Industri 4.0
Editor : Fatkhul Maskur
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top