Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kumpul Tak Kumpul Asal Makan : Pertumbuhan Pesat Ritel F&B

Sejak 3 tahun terakhir, peritel dari segmen makanan dan minuman (mamin) atau foods and beverages (F&B) berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan hingga 18%.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 19 Maret 2019  |  09:47 WIB
Pembeli memesan makanan saat grand opening EATLAH di Gandaria City, Jakarta, Jumat (3/8/2018). - JIBI/Abdullah Azzam
Pembeli memesan makanan saat grand opening EATLAH di Gandaria City, Jakarta, Jumat (3/8/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Saat ini, mengadakan rapat atau bekerja di sebuah warung makan atau minuman menjadi hal yang mahfum dan jamak dilakukan masyarakat.

Sebuah adagium lama yang menyebutkan ‘makan tak makan asal kumpul’ tampaknya mulai mengalami perubahan makna seiring dengan bergesernya gaya hidup masyarakat.

Ketua Umum Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah berujar, sejak 3 tahun terakhir, peritel dari segmen makanan dan minuman (mamin) atau foods and beverages (F&B) berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan hingga 18%.

Kondisi sebaliknya justru terjadi pada peritel segmen lain seperti pakaian dan peralatan rumah tangga yang rata-rata hanya tumbuh 10% dalam periode yang sama .

Data Statista memproyeksi, pendapatan sektor ritel mamin di Indonesia akan menembus US$793 juta pada tahun ini. Capaian itu akan terus tumbuh hingga 2023 yang diprediksi menembus US$1,4 miliar.

“Masyarakat saat ini trennya, rapat di toko makan seperti kafe atau restoran. Bekerja juga di tempat yang sama. Ngobrol dengan teman atau pergi bersama keluarga juga di tempat makan. Jadi, trennya memang orang lebih mudah mengeluarkan duit ketika di tempat makan,” ujarnya, Senin (18/3).

Situasi tersebut, menurutnya, didukung pula oleh mulai bergesernya pola berjualan para para peritel pakaian dan perlengkapan. Dia mengatakan, peritel segmen tersebut sengaja menyediakan ruang khusus bagi produk makanan dan minuman.

Dia mencontohkan peritel pakaian, yakni SOGO, yang menyediakan slot khusus bagi kafe seperti Starbucks di dalam gerainya. Pasalnya, kehadiran tenant produk mamin tersebut terbukti mampu mengerek tingkat kunjungan di SOGO.

Lebih lanjut, dia mengatakan, tingginya minat masyarakat untuk membelanjakan uangnya pada produk mamin membuat sektor bisnis ritel F&B menjadi primadona di mata pengusaha saat ini.

“Banyak sekali pengusaha yang lebih memilih membuka tenant mamin, di berbagai pusat perbelanjaan atau mal dibandingkan dengan segmen lain. Maka, kami dari asosiasi berusaha menjaga keseimbangannya, jangan sampai nanti malah mal menjadi semacam food court,” jelasnya.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta mengatakan, pesatnya pertumbuhan ritel mamin disebabkan oleh besarnya proporsi penduduk berusia muda. Kalangan tersebut, menurutnya, memiliki daya beli yang kuat dan mempunyai gaya hidup yang gemar berkumpul.

“Kalangan milenial, terutama, adalah mereka yang gemar memburu pengalaman. Dalam hal ini, mereka gemar berburu suasana baru di tempat nongkrong. Kalangan ini juga senang mencari sensasi baru di produk kuliner. Jadi, ini adalah kombinasi yang baik untuk segemen ritel mamin,” ujarnya.

Dengan demikian, menurutnya, prospek sektor tersebut akan terus bertumbuh dengan pesat pada masa depan. Hal itu setidaknya tercermin dari data Statista di mana kalangan masyarakat usia 25—34 tahun dan 18—24 tahun akan mendominasi konsumen bisnis ritel mamin di Tanah Air.

Di sisi lain, pembangunan infrastruktur di Indonesia juga mendukung adanya pertumbuhan ritel sektor mamin, terutama makanan cepat saji.

Tutum, mencontohkan rest area tol, yang mayoritas berisi tenant mamin. Dengan bertambahnya jumlah tol, ruang baru bagi peritel sektor tersebut untuk menjajakan produknya pun akan ikut bertambah.

“Selanjutnya, potensi lain datang dari pesatnya pertumbuhan bisnis waralaba mamin. Sistem waralaba ini relatif lebih mudah dikembangkan bagi pengusaha dan potensi pasar konsumennya besar,” ujarnya.

UJUNG TOMBAK

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Tjahya Widayanti mengatakan, perdagangan ritel di sektor industri mamin di dalam negeri sangat besar. Dia mengatakan, ritel sektor mamin merupakan salah satu ujung tombak perekonomian di dalam negeri, lantaran besarnya jumlah penduduk RI.

“Kita akan dorong terus sektor ini untuk tumbuh. Sebab, mamin ini relatif tahan dengan tren penurunan konsumsi rumah tangga. Ekspansinya cukup kencang karena bonus demografis kita sangat mendukung dan ekosistemnya sudah jadi,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur PT Sarimelati Kencana Tbk. Joe Sasanto yang merupakan pemilik gerai makanan cepat saji Pizza Hut mengatakan, tren sektor tersebut akan terus tumbuh pada masa depan.

Saat ini, sejumlah sentimen positif yang mendorong penjualan produknya terus bertambah.

Salah satu sentimen it datang dari layanan pesan-antar makanan dari penyedia jasa ojek daring. Menurutnya, kehadiran jasa ojek daring itu, terbukti sangat membantu mendorong penjualan produk kami.

“Ada juga sejumlah program diskon dari jasa pembayaran online yang melibatkan kami. Program ini rata-rata digemari kalangan milenial, dan hal ini sangat membantu kami mendogkrak penjualan,” katanya.

Dengan adanya tren tersebut, korporasinya telah mengalokasikan belanja modal Rp450 miliar pada tahun ini, untuk menambah 60 gerai baru pada 2019.

Dari total penambahan itu, gerai yang paling banyak dibuka yakni Pizza Hut Delivery (PHD) atau gerai yang fokus pada layanan pesan antar dengan 44 gerai.

Dia mengatakan, saat ini, perusahaan terus berekspansi ke kota-kota lapis dua dan tiga atau nonkota besar. Pasalnya, kota tipe tersebut memiliki potensi belum tergarap maksimal, tetapi daya belinya relatif tinggi.

Tingginya potensi ritel mamin di Indonesia juga diintip oleh PT Rekso Nasional Food, pemegang lisensi ritel makanan cepat saji McDonald.

Direktur Komunikasi Rekso Nasional Sutji Lantyka mengatakan, pada tahun ini perusahaannya menargetkan membuka 20 gerai baru.

Jumlah itu meningkat dari tahun lalu dengan pembukaan 15 gerai baru. Menurutnya, konsumen dari kalangan milenial menjadi salah satu pendorong utama pendapatan perusahaan.

“Kami memiliki beberapa gerai yang buka 24 jam. Gerai dengan tipe seperti itu sangat diminati kaum muda sehingga cukup mendorong pertumbuhan pendapatan kita,” ujarnya.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengatakan, ritel segmen mamin menjadi yang paling tahan dengan gejolak ekonomi di dalam negeri. Menurutnya, karakter masyarakat Indonesia cenderung menahan daya belinya untuk produk nonmakanan dibandingkan dengan produk makanan.

“Alhasil, ketika ada gejolak penurunan daya beli masyarakat, sektor makanan ini paling tahan dan kalau terpukul paling terakhir. Sektor ini sejatinya bisa menjadi ujung tombak perekonomian kita, apalagi konsumsi rumah tangga kita sedang mengalami pemulihan,” katanya.

Hanya saja, dia mencermati bahwa pertumbuha ritel mamin ini masih belum merata. Dominasi pertumbuhan bisnis tersebut di Pulau Jawa, membuat potensi di luar Jawa belum tergarap maksimal.

Dengan demikian, di tengah terus moncernya sektor tersebut, baik pemerintah dan pelaku usaha sejatinya harus mendorong pertumbuhan bisnis tersebut di luar Jawa. Dengan digarapnya kawasan non-Jawa, potensi ekonomi yang dihasilkan akan lebih besar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ritel
Editor : Demis Rizky Gosta
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top