Angin Segar untuk Korsel, Pertumbuhan Kerja Cetak Angka Terbesar

Ada kabar gembira bagi pemerintahan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in. Data pekerjaan yang baru saja dirilis menunjukkan solidnya kondisi ketenagakerjaan di Negeri Ginseng ini.
Renat Sofie Andriani | 13 Maret 2019 10:13 WIB
Kawasan pusat belanja Sewoon di Kota Seoul, Korea Selatan - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Ada kabar gembira bagi pemerintahan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in. Data pekerjaan yang baru saja dirilis menunjukkan solidnya kondisi ketenagakerjaan di Negeri Ginseng ini.

Sebagaimana diberitakan Bloomberg, Rabu (13/3/2019), tingkat pengangguran pada Februari 2019 tak terduga turun menjadi 3,7%. Angka ini adalah yang terendah dalam delapan bulan dan lebih baik dari proyeksi ekonom sebesar 4,2%.

Selain itu, angka pekerjaan baru bertambah sebanyak 263.000 bulan lalu, terbesar sejak Januari tahun lalu. Kebanyakan dari pekerjaan itu terutama bergerak di bidang pelayanan.

Laporan data pekerjaan itu menjadi angin segar bagi pemerintahan Moon Jae-in, yang tengah menerima kritik atas kebijakan ekonominya, khususnya kenaikan upah minimum yang agresif.

Tekanan terhadap Moon telah meningkat seiring dengan melesunya daya ekonomi. Ekspor Korsel merosot dalam beberapa bulan terakhir akibat permintaan eksternal yang lebih lemah.

Di sisi lain, kondisi perekrutan kerja telah lunglai selama sekitar satu tahun, dan banyak yang menyalahkan kenaikan upah minimum sebagai penyebabnya.

Pada Senin (11/3), dalam kunjungannya ke Seoul, delegasi dari Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan keprihatinan tentang laju kenaikan upah serta menyerukan anggaran tambahan yang substansial untuk mendukung pertumbuhan.

Moon sendiri telah berjanji untuk menjadi presiden yang mendorong pekerjaan dan untuk mendukung pertumbuhan dengan mengatasi ketidaksetaraan yang berkembang.

Pekan lalu, sebuah jajak pendapat oleh perusahaan riset Gallup Korea menunjukkan tingkat dukungan untuk Moon turun menjadi 46%, mendekati level terendah sepanjang masa yang dibukukannya pada Desember tahun lalu yakni 45%.

Polusi udara terburuk yang dialami Korsel selama bertahun-tahun dan kegagalan perundingan nuklir AS-Korea Utara juga membebani popularitasnya.

Tag : korea selatan, Ekonomi Korsel
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top