Pergeseran Penyewa Properti Pengaruhi Strategi Investasi

Perubahan profil pengisi ruang properti, terutama di pasar perkantoran, di berbagai belahan dunia dinilai bisa memengaruhi strategi investasi untuk pemilik properti komersial.
Mutiara Nabila | 12 Maret 2019 06:42 WIB
Co-working space. - UnionSPACE

Bisnis.com, JAKARTA — Perubahan profil pengisi ruang properti, terutama di pasar perkantoran, di berbagai belahan dunia dinilai bisa memengaruhi strategi investasi untuk pemilik properti komersial.

Managing Director of Capital Market and Investment Services Colliers Terence Tang menyebutkan bahwa kawasan pusat niaga atau central business district (CBD) selama ini umumnya didominasi oleh perusahaan finansial.

Namun, kini perusahaan teknologi, media, dan telekomunikasi (TMT), serta operator ruang kerja seperti co-working space nyatanya menjadi pendorong permintaan properti perkantoran terbesar sepanjang 2017—2018.

“Saat ini perusahaan TMT mengisi sekitar 18% dari seluruh ruang kantor di kawasan utama CBD di Asia, sedangkan untuk co-working space mengisi sekitar 5%,” ujarnya melalui siaran pers, Minggu (10/3/2019).

Pada 2018, lanjutnya, TMT dan co-working space bersama menyumbang keterisian ruang kantor masing-masing 11% dan 75% untuk kantor kelas atas.

Menurut Tang, pertumbuhan pengisi ruang perkantoran ini memang melambat, tetapi belum akan berbalik arah dalam waktu dekat.

Selanjutnya, perkembangan teknologi dan sektor co-working space di Asia layaknya berkaca pada perkembangan di Inggris dan Amerika Serikat.

Akan tetapi, Asia bergerak lebih cepat dibandingkan dengan pasar perkotaan lainnya seperti di Eropa dan Amerika.

“Sektor TMT masih menjadi pendorong utama pertumbuhan permintaan di pasar kantor di Inggris, mengisi 10% total pasok di London pada akhir 2018. Hal ini terpicu oleh perkembangan teknologi seperti Google, Facebook, Amazon, dan Apple,” kata Tang.

Namun, dari catatan pertumbuhan tersebut, menurut Colliers, masih lebih datar jika dibandingkan dengan di India atau China karena perusahaan TMT di kedua negara tersebut mengisi masing-masing 48% dan 20% dari seluruh keterisian ruang kantor.

Pertumbuhan ruang kantor fleksibel atau co-working space di AS juga menunjukkan bahwa para pemilik properti mulai bereaksi pada perubahan permintaan.

Di AS, co-working space sudah menyumbang sepertiga dari seluruh penyewaan ruang kantor dalam 18 bulan terakhir.

Seperti di Asia, operator ruang perkantoran menggeser targetnya ke perusahaan yang lebih besar dan ke perusahaan yang lebih menjanjikan.

Tag : coworking space
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top