Kelanjutan Kerja Sama Pertamina - Aramco Ditentukan Juni Mendatang

PT Pertamina (Persero) menyatakan nasib keberlanjutan rencana pembentukan perusahaan patungan dengan Aramco akan diputuskan pada Juni mendatang setelah evaluasi valuasi aset.
David Eka Issetiabudi | 05 Maret 2019 09:19 WIB
Sebuah pemandangan menunjukkan fasilitas minyak Abqaiq Saudi Aramco di Arab Saudi timur - REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA—PT Pertamina (Persero) menyatakan nasib keberlanjutan rencana pembentukan perusahaan patungan dengan Aramco akan diputuskan pada Juni mendatang setelah evaluasi valuasi aset.

Ignatius Tallulembang, Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia PT Pertamina, mengatakan pihaknya sedang menanti hasil evaluasi dari konsultan independen untuk melihat nilai kewajaran sesuai dengan kaidah internasional terkait valuasi aset di Kilang Cilacap.

Menurutnya, hasil evaluasi akan diterbitkan paling lambat pada akhir bulan ini. Setelah evaluasi valuasi aset terbit, Pertamina akan menyampaikannya ke Aramco untuk menindaklanjuti rencana pembentukan joint venture.

“[Juni] itu waktu yang diberikan sampai habis masa waktunya, kalau tidak sepakat ya terminasi baik-baik. Opsinya kilang jalan terus, kalau sendiri ya pakai paket hemat, atau kami cari mitra lain,” tuturnya, Senin (4/3/2019).

Sesuai perjanjian awal, Pertamina tidak diperkenankan mencari calon mitra baru sebelum waktu terminasi. Tallulembang mengatakan jika ke depannya Pertamina dan Aramco sepakat, maka proses engineering RDMP Cilacap dilanjutkan dengan komposisi saham tidak berubah seperti perjanjian semula.

Awalnya, PT Pertamina (Persero) Saudi Aramco sepakat membentuk perusahaan patungan Joint Venture dalam membangun Kilang Cilacap pada akhir 2016. Adapun dalam perusahaan patungan ini, Pertamina tetap memegang hak kelola mayoritas yakni sebesar 55%, sedangkan sisanya dimiliki Aramco.

Kilang Cilacap merupakan salah satu bagian dari Refinery Development Master Plan (RDMP) Pertamina dan kapasitasnya direncanakan akan ditambah menjadi 400.000 barel per hari dan dirancang untuk memroses minyak mentah dari Arab yang disediakan oleh Saudi Aramco. Kilang ini juga akan menghasilkan produk yang memenuhi spesifikasi Euro V, petrokimia dasar (basic petrochemical), dan Group II Base Oil untuk pelumas.

Dia menambahkan proses pengembangan Kilang Cilacap terlihat memakan waktu mengingat perlu dilakukan spin off aset, berbeda dengan proyek pengembangan yang tidak memerlukan valuasi aset.

Pada Februari lalu, Arab Saudi dan China menjalin kesepakatan bernilai lebih dari US$10 miliar untuk proyek kompleks kilang dan petrokimia di China, Jumat (22/2/2019).

Kesepakatan itu berupa perjanjian pendirian Joint Venture (JV) antara Saudi Aramco dengan perusahaan pertahanan swasta besar China, yaitu Norinco.

Perusahaan patungan itu dinamakan Huajin Aramco Petrochemical Co. Kilang tersebut diproyeksi memiliki kapasitas 300.000 barel minyak per hari dengan 1,5 juta metrik ton ethylene cracker per tahun.

Arab Saudi mengharapkan investasi ini dapat membuat mereka menjadi eksportir minyak utama ke China, menggeser Rusia yang menempati posisi itu selama tiga tahun terakhir. Proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2024.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pertamina, saudi aramco

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup