ENERGI LISTRIK : Cadangan Daya Jawa-Bali Ditargetkan Minimal 30%

PT Perusahaan Listrik Negara (persero) menyebut cadangan daya atau reserve margin pembangkit di Jawa dan Bali yang diperlukan sebesar 30% dan telah menjadi kebijakan nasional supaya sistem kelistrikan bisa beroperasi secara maksimal.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 27 Februari 2019  |  10:52 WIB
ENERGI LISTRIK : Cadangan Daya Jawa-Bali Ditargetkan Minimal 30%
Petugas melakukan pengecekan instalasi sumur Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi PT Geo Dipa Energi (Persero) unit Dieng di Wonosobo, Jawa Tengah, Senin (24/7). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA—PT Perusahaan Listrik Negara (persero)  menyebut cadangan daya atau reserve margin pembangkit di Jawa dan Bali yang diperlukan sebesar 30% dan telah menjadi kebijakan nasional supaya sistem kelistrikan bisa beroperasi secara maksimal.

Pasalnya jika cadangan daya berada pada level dibawah 30%, maka bisa dikatakan siaga dan defisit karena pada saat beban puncak tertinggi, daya mampu akan berkurang dari beban puncak.

Direktur Bisnis Regional Jawa bagian Timur, Bali dan Nusra, Djoko R Abumanan  mengatakan reserve margin diseluruh sistem PLN pada 2019 memang ditargetkan minimal 30%, terutama di luar Jawa-Bali mempunyai reserve margin jauh diatas 30%. Hal itu dengan pertimbangan bahwa pembangkit-pembangkit yang masuk dalam FTP1, kinerjanya belum baik.

Selanjutnya juga untuk menurunkan pembangkit-pembangkit eksisting yang sudah tua dengan biaya pokok yang mahal seperti PLTU Gresik Unit I dan Unit II, serta untuk memitigasi resiko teknologi, dengan adanya pembangkit-pembangkit baru yang menggunakan teknologi lebih efisien. 

“Kami ketar-ketir kalau dioperasikan dengan reserve margin 30%, Pembangkit yang mahal, pakai BBM dan gas, makanya yang kami lakukan, pembangkit dengan beban biaya lebih murah  sebagai cadangan daya,”ungkapnya kepada Bisnis, Selasa (26/2/2019).

Dengan reserve margin yang besar tersebut, memang ada potensi untuk meningkatkan kebutuhan listrik, dan perseroan harus menciptakan permintaan baru supaya menjadi lebih efisien. Namun, kata Djoko dalam menentukan target konsumsi selalu diperhitungkan lebih tinggi karena dasar penyusunannya haruslah berbasis pertumbuhan ekonomi.

Djoko menuturkan saat ini, pertumbuhan konsumsi listrik mengalami secara signifikan berada di luar Jawa, akan tetapi memang secara mayoritas pendapatan perseroan masih disokong oleh konsumsi di Jawa.

“Selama ini kan dari segi presentase pertumbuhan di luar Jawa, industri dan bisnis selalu tumbuh yang turun rumah tangganya. Makanya, kami kemarin juga berikan diskon tarif di sketor RTM 900 VA, biar konsumsi rumah tangganya juga naik,"imbuhnya.

Djoko juga menekankan sejak penyusunan Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019—2028 telah menahan pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan mulai menggesernya dengan PLTU biomassa, kecuali untuk PLTU mulut tambang.

“Itu karena batu-bara mulut tambang melimpah di Indonesia.Tidak bisa di ekspor, karena seperti lumpur, dibikin bedak/kosmetik juga nggak bisa, bisanya memang hanya digunakan untuk listrik di mulut tambang,”katanya.

Djoko menekankan kedepannya alokasi untuk PLTU biomassa merupakan salah satu kebutuhan batubara hijau direncanakan untuk naik signifikan. Batubara hijau difokuskan utamanya untuk indonesia timur.

Adapun dari RUPTL (2019—2028), guna memenuhi kebutuhan pembangkit, PLN tahun ini membutuhkan biomasaa/sampah sebanyak 243 kilo tonyang akan terus naik hingga 3.538 ton pada 2028. Sementara kebutuhan batubara untuk pembangkit tahun ini mencapai 97 ton dan alokasinya juga terus naik sampai 2028 sebanyak 165 juta ton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
listrik, pembangkit listrik

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top