BUMN Perkebunan Siap Beli Putus Tebu Petani

PTPN Holding akan menjalankan 100% sistem beli putus (SBP) pada musim panen 2019. Dengan demikian, PTPN siap bersaing dengan swasta menyerap tebu petani.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 24 Februari 2019  |  18:49 WIB
BUMN Perkebunan Siap Beli Putus Tebu Petani
Buruh memanen tebu untuk dikirim ke pabrik gula di Ngawi, Jawa Timur, Selasa (8/8). - ANTARA/Ari Bowo Sucipto

Bisnis.com, JAKARTA - PTPN Holding akan menjalankan 100% sistem beli putus (SBP) pada musim panen 2019. Dengan demikian, PTPN siap bersaing dengan swasta menyerap tebu petani.

Direktur Utama PTPN Holding, Dolly Pulungan mengatakan SBP akan mulai dijalankan pada musim panen 2019 sekitar Mei dan Juni.

"Pembelian akan kami lakukan beradasarkan rapat koordinasi terbatas dengan Kementerian terkait. Mulai musim giling kami akan langsung beli," katanya pada Kamis (21/2).

Sebelumnya Asosiasi Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menghitung pemerintah perlu menyiapkan dana Rp10 triliun untuk bisa membeli semua tebu rakyat. Tapi menurut Dolly dana pembelian tidak akan sampai sebengkak itu.

"Karena itu roll over dua minggu. Kami hitung PTP itu akan habis sekitar Rp4,2 triliun atau setara dengan 8,3 juta ton tebu rakyat," katanya.

Angka ini sekaligus merevisi alokasi awal yang dicanangkan oleh PTPN III untuk sistem beli putus ini, yakni Rp600 miliar per siklus giling. Perubahan alokasi ini disebabkan oleh revisi hitungan jumlah yang harus diserap.

Dengan skema ini Dolly mengatakan akan siap bersaing dengan perusahaan swasta dalam menyerap tebu petani rakyat. Kendati demikian dia optimistis petani rakyat akan lebih berpihak kepada perusahaan plat merah karena bisa memberikan harga yang kompetitif.

Di sisi lain, perseroan juga sudah menjalin kerjasama dengan petani rakyat lewat pemberian bantuan berupa bibit, pupuk dan lainnya.

"Swasta [mungkin] mahal lagi belinya. Tapi kami akan beradu dengan swasta untuk beli tebu dan akan rebutan. Kami optimistis target produksi 1,3 juta ton akan tercapai karena petani itu plasma atau bermitra. Avalis bibit pupuk dll dengan kami semua," katanya.

Dolly mengatakan perseroan akan membeli secara langsung dan bayar dimuka bisa kepada personal atau koperasi. Sementara PTPN akan menunjuk perwakilan pabrik untuk membelinya langsung.

Sampai sejauh ini Dolly belum mengatakan penentuan harga beli tebu kepada petani. Menurutnya tiap wilayah akan ada nilai yang berbeda. Namun, dia mengharapkan pemerintah menyepakati harga jual gula PTPN Rp9.700/kg dengan begitu kondisi keuangan bisa aman.

"Kalau disepakati harga gula Rp9.700 per kg masih aman kami. Beli SBT kami macam-macam yang pasti harga kompetitif dengan swasta," pungkasnya.

Sebelumnya, PTPN menggunakan skema bagi hasil, dimana PG BUMN dibayar atas jasa produksinya menggiling tebu petani rakyat.

Petani menggilingkan tebu di PG BUMN. Sementara untuk membayar upah giling tebu, petani menggantinya dengan gula. Selama ini bagi hasil diantaranya adalah petani dapat gula 66% sedangkan pabrik gula dapat upah giling 34% gula.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gula, tebu, perkebunan, ptpn 3, ptpn iii

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup