4 Pembangkit Listrik Milik PLN Siap Gunakan B100

PT Perusahaan Listrik Negara (persero) akan mulai mengimplementasikan penggunaan crude palm oil atau minyak kelapa sawit mentah 100% pada 4 pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) perseroan pada tahun ini.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 20 Februari 2019  |  18:30 WIB
4 Pembangkit Listrik Milik PLN Siap Gunakan B100
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - PT Perusahaan Listrik Negara (persero) akan mulai mengimplementasikan penggunaan crude palm oil atau minyak kelapa sawit mentah 100% pada 4 pembangkit listrik  tenaga diesel (PLTD) perseroan pada tahun ini.

Direktur Perencanaan Korporat PT PLN (persero) Syofvi Felianty Roekman mengatakan pembangkit di antaranya PLTD Kanaan yang terletak di Bontang, Kalimantan Timur dengan kapasitas 10 MW. PLTD Batakan di Balikpapan, Kalimantan Timur dengan kapasitas 40 MW.

PLTD Suppa di Pare-Pare, Sulawesi Selatan dengan kapasitas 62 MW. Serta pembangkit listrik tenaga mesin gas (PLTMG) Jayapura Papua dengan kapasitas 10 MW.

Keempat pembangkit tersebut membutuhkan kapasitas 190.000 kiloliter diesel per tahunnya. Sehingga, langka uji coba ini bisa mengurangi penggunaan diesel sejumlah itu setiap tahunnya.

Syofvi menyebut investasi tambahan akan dibutuhkan untuk melakukan modifikasi pada mesin pembangkit supaya bisa menggunakan CPO, akan teapi nilainya tidak terlalu signifikan karena modifikasi hanya bersifat minor.

“Ke depannya kalau bisa PLTG, karena kalau harga CPO bisa sama atau lebih murah dari gas pasti kami konversikan juga,”katanya Rabu (20/2/2019).

Pada pelaksanaannya biaya-biaya yang timbul untuk pengujian dapat diambil dari dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

BUMN listrik itu sebelumnya memang tengah menyusun roadmap penggunaan minyak kelapa sawit murni 100% (B100) pada pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) miliknya.

Syofvi mengatakan, konversi bahan bakar PLTD dari high speed diesel (HSD) menjadi 100% crude palm oil (CPO) masih membutuhkan kajian lebih mendalam.  Pasalnya, penggunaan campuran CPO 20% (B20) pada PLTD PLN yang ada saat ini kurang efisien.

Oleh karena itu, pihaknya harus memastikan kandungan CPO yang seperti apa yang cocok dengan desain mesin PLTD.  Sehingga dapat diketahui apakah PLN memungkinkan mengganti bahan bakar mesin lamanya dengan B100 atau PLN perlu melakukan penggantian mesin PLTD dengan mesin yang baru.  

"Karena kalau pakai mesin eksisting saya pakai B20 aja unefisien-nya sekitar 3%, artinya mesinnya nggak efisien.  Nah, kalau kami desain dari awal kami bisa lebih hemat," ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan pemerintah menargetkan untuk mengonversi 1.800 MW PLTD dengan B100.  Secara kebijakan tertulis hal itu sudah dipastikan, sementara untuk operasional atau pelaksanaannya masih akan dibicarakan lebih lanjut.

“Pak Menteri [Jonan] justru meminta itu maksimal bisa dilakukan dalam 2 tahun belakangan. Karena sebetulnya dari mesin yang ada tinggal ditambah dikit, purely 100%. Jadi nggak dicampurkan sekarang, biodiesel ada B30 dan lainnya,”katanya.

Terkait jumlah pembangkit yang akan diubah, maka pendataan akan dilakukan oleh PLN serta beberapa perusahaan Finlandia yang bekerja sama dengan PLN.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
listrik, cpo, Biodiesel

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top