Lahan Kawasan Industri Tak Lagi Didominasi Bekasi

Sepanjang 2018, tambahan cadangan lahan untuk kawasan industri di seluruh Indonesia masih bertumbuh tipis. Transaksi pembelian kini lebih merata di Karawang, Bekasi dan Serang.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 13 Februari 2019  |  17:00 WIB
Lahan Kawasan Industri Tak Lagi Didominasi Bekasi
Suasana di kawasan industri terpadu Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur, Kamis (8/3/2018). - ANTARA/Zabur Karuru

Bisnis.com, JAKARTA – Sepanjang 2018, tambahan cadangan lahan untuk kawasan industri di seluruh Indonesia masih bertumbuh tipis. Transaksi pembelian kini lebih merata di Karawang, Bekasi dan Serang.

Menurut catatan Colliers International, kuartal IV/2018 merupakan saat terbaik untuk pasar kawasan industri, terutama di Jakarta dan sekitarnya dengan tingginya penjualan lahan di kuartal itu.

Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto memaparkan, pada kuartal IV/2018, tercatat telah terjual lahan seluas 66 hektare, membuat total lahan yang terjual sepanjang 2018 menjadi 177,8 hektare. Angka ini lebih rendah dari capaian 2017 yang 208,22 hektare

“Hanya saja transaksi penjualan pada 2018 lebih tersebar ke tiga tempat seperti Karawang, Bekasi, dan Serang,” kata Ferry belum lama ini.

Pada 2017, 61% total transaksi terjadi di Bekasi, sedangkan sepanjang 2018, komposisi di tiga tempat tersebut cukup merata.

Selain itu, volume transaksi terbanyak yang tercatat sepanjang kuartal IV/2018 adalah dari Bekasi Fajar dengan jumlah 26,4 hektare, membuat perusahaan itu menjadi kontributor terbesar dalam keseluruhan penjualan lahan sepanjang 2018 di Jakarta dan sekitarnya.

“Pada kuartal IV/2018 itu, pasar kawasan industri mendapat laporan dengan angka yang mengejutkan dari Karawang International Industrial City [KIIC] dan Krakatau Industrial Estate Cilegon [KIEC] yang membukukan jumlah penjualan yang hampir sama, masing-masing 12,5 hektare. Dalam catatan kami, itu merupakan yang tertinggi dicapai KIEC dari dua tahun lalu di periode yang sama,” imbuhnya.

Selain itu, perusahaan asal Jepang juga memperoleh lahan sekitar 20,4 hektare di Bekasi Fajar, jumlah itu mencatatkan transaksi terbesar pada sepanjang empat bulan terakhir 2018 itu.

“Dengan adanya akuisisi lahan dari perusahaan kemasan asal Jepang hingga sekitar 6 hektare, Bekasi Fajar membukukan volume lahan terbesar hingga 34,5 hektare selama 2018 berjalan,” lanjut Ferry.

Selanjutnya, perusahaan asal Jepang juga mulai aktif bekerja sama dengan KIIC. Tercatat ada dua transaksi sepanjang 2018 dari joint ventures antara dua perusahaan Jepang – Indonesia.

Sementara itu, transaksi pembelian lahan seluas 1,5 hektare berasal dari perusahaan industri kemasan plastik dan 11 hektare lainnya diambil oleh perusahaan otomotif. Di Serang, KIEC mencatatkan empat kesepakatan dengan total 12,5 hektare untuk mengembangkan proyek yang sudah ada seperti perusahaan kimia, pabrik, minyak, dan elektronik atau industri komunikasi.

Adapun, pada kuartal akhir 2018, Sentul Industrial Estate berhasil menjadikan kota Bogor sebagai wilayah dengan jumlah transaksi yang cukup aktif.

“Setelah beberapa tahun tidak mencatatkan transaksi, kawasan industri Sentul akhirnya melaporkan tiga kesepakatan dari perusahaan produsen karpet, makanan, dan obat-obatan. Seluruh perusahaan tersebut mendirikan cabang untuk lokasi yang sebelumnya sudah ada.”

Menurut Ferry, kesepakatan pembelian yang dibuat sepanjang 2018, mencapai 2,3 hektare cukup baik mengingat lahan untuk kawasan industri di Bogor sangat terbatas.

“Hal ini juga menjadi penyebab mengapa Bogor memiliki harga paling tinggi soal kawasan industri,” kata Ferry.

Kemudian, di Tangerang, Griya Idola, kawasan yang masih tergolong baru untuk peridustrian, membukukan aktivitas penjualan yang cemerlang. Perusahaan itu tercatat melakukan 9 kesepakatan pembelian lahan kecil sepanjang kuartal IV/2018, sehingga total kawasannya mencapai 2 hektare.

“Akuisisi terbesar dilakukan oleh perusahaan kontraktor lokal yang mengambil lahan seluas 1 hektare dan persuahaan pendingin udara asal Jepang yang membeli sekitar 0.5 hektare. Sisa transaksi pembelian lahan lainnya berasal dari transaksi dengan jumlah yang lebih sedikit, berkisar antara 300 – 1.500 meter persegi oleh perusahaan lokal dari beragam bidang industri,” kata Ferry.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kawasan industri

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top