Indonesia Incar Investasi Senilai US$60 Miliar di Batam

Pemerintah Indonesia ingin memposisikan kembali pulau Batam sebagai alternatif pengiriman dan pusat produksi menuju Singapura dengan potensi menarik investasi senilai US$60 miliar.
Aprianto Cahyo Nugroho | 01 Februari 2019 12:11 WIB
Salah satu sudut Batam, Kepulauan Riau - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah Indonesia ingin memposisikan kembali pulau Batam sebagai alternatif pengiriman dan pusat produksi menuju Singapura dengan potensi menarik investasi senilai US$60 miliar.

Batam dan pulau-pulau terdekat, yang terletak kurang dari 30 kilometer Singapura, telah menarik sekitar US$20 miliar investasi sejak pemerintah mulai mempromosikannya sebagai kawasan industri pada tahun 1970-an.

Wilayah Batam yang dinyatakan sebagai zona perdagangan bebas pada 2007 adalah rumah bagi ribuan perusahaan lokal dan asing yang memproduksi berbagai macam barang mulai dari komputer hingga rig minyak.

Pemerintah saat ini ingin memperluas manfaat bagi bisnis dengan mereklamasi sekitar 8.000 hektar lahan kosong atau sitaan untuk ditawarkan kepada eksportir atau produsen barang pengganti impor.

Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas  dan Pelabuhan Bebas Batam (BP Batam) Edy Putra Irawady mengatakan akan melakukan pengembangan kantong-kantong zona ekonomi khusus di Batam, dengan kluster khusus untuk pariwisata dan logistik.

"Berdasarkan perhitungan kasar, investasi potensial termasuk yang ada dalam pipeline bernilai sekitar US$60 miliar," ungkap Edy, seperti dikutip Bloomberg, Jumat (1/2/2019).

Zona perdagangan bebas Batam terdiri dari delapan pulau berukuran 71.500 hektar. Wilayah ini semakin penting sebagai tujuan investasi bagi perusahaan asing, terutama perusahaan Singapura, mengingat lokasinya yang berada di salah satu jalur pengiriman tersibuk, dengan tenaga kerja murah, dan keringanan pajak.

Perusahaan yang beroperasi di kawasan perdagangan bebas dibebaskan dari pajak pertambahan nilai (PPN) dan PPNBM, serta bea impor.

Menteri Perindustrian Indonesia Airlangga Hartarto mengatakan pulau-pulau di Batam tersebut cocok dengan perusahaan-perusahaan yang ingin merelokasi pabrik-pabrik mereka ketika perang perdagangan AS-China mengganggu rantai pasokan global.

Kementerian Perindustrian menyatakan perusahaan asal Taiwan, Pegatron Corp. telah mengumumkan kemitraan investasi dengan produsen elektronik lokal PT Sat Nusapersada, sementara Apple Inc. berencana untuk membuka akademi pengembang baru di Batam.

Kesepakatan Asean

Edy mengatakan, sejumlah perusahaan juga tertarik untuk berinvestasi dalam pariwisata, barang elektronik, serta industri galangan kapal. Di bawah kelompok ekonomi khusus, perusahaan tersebut akan menikmati insentif pajak dan tunjangan yang ditetapkan berdasarkan perjanjian perdagangan bebas Asean.

Perpanjangan manfaat perdagangan bebas Asean dapat memacu perusahaan-perusahaan di Batam untuk secara langsung memasok barang-barang ke wilayah lain di Indonesia daripada mengarahkannya ke Singapura.

Edy melanjutkan, pemerintah juga tengah berupaya memperluas kapasitas bandara internasional Batam, yang bersama dengan tujuan wisata populer Nongsa akan diubah menjadi zona ekonomi khusus pertama di pulau yang didedikasikan untuk pariwisata dalam dua tahun ke depan.

Lokasi strategis Batam di sepanjang Selat Malaka, yang menghubungkan rute pelayaran internasional antara Samudra Hindia dan Pasifik, adalah keuntungan utama yang ingin dipromosikan lebih lanjut.

“Singapura sudah terlalu ramai. Bicara soal layanan pengiriman minyak mentah, misalnya, beberapa kapal sudah pindah dari Singapura ke Batam,” katanya.

“Pengirim barang dari daerah seperti Jakarta dan Semarang juga mengandalkan layanan panggilan langsung di Singapura untuk mengirimkan barang mereka ke luar negeri. Kami ingin memindahkan semuanya ke Batam nanti,” lanjutnya.

Tag : investasi, batam
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top