Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Begini Gambaran Investasi di Sektor Manufaktur dalam 5 Tahun Terakhir

Realisasi investasi di sektor manufaktur selama 5 tahun terakhir berada dalam kondisi naik turun. Hal ini dipengaruhi oleh faktor seasonal dan faktor fundamental.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 30 Januari 2019  |  21:30 WIB
Presiden Joko Widodo (kanan) meninjau pabrik Mitsubishi Motor Krama Yudha Indonesia (MMKI) Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (25/4). - Setpres/Laily
Presiden Joko Widodo (kanan) meninjau pabrik Mitsubishi Motor Krama Yudha Indonesia (MMKI) Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (25/4). - Setpres/Laily

Bisnis.com, JAKARTA—Realisasi investasi di sektor manufaktur selama 5 tahun terakhir berada dalam kondisi naik turun. Hal ini dipengaruhi oleh faktor seasonal dan faktor fundamental.

Berdasarkan data yang dirilis oleh BKPM, realisasi industri manufaktur pada 2014 ke 2015 tumbuh dari Rp199,1 triliun menjadi Rp236 triliun. Kenaikan ini berlanjut hingga mencapai titik tertinggi dalam 5 tahun terakhir pada 2016, senilai Rp335,8 triliun.

Namun, setelah mengalami kenaikan tersebut, realisasi investasi sektor manufaktur mulai menurun pada 2017 menjadi Rp274,7 triliun dan berlanjut pada tahun lalu menjadi Rp222,3 triliun.

Mohammad Faisal, Direktur Penelitian Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, mengatakan realisasi investasi manufaktur yang berada dalam kondisi naik turun tersebut dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu musiman atau seasonal dan fundamental.

“Faktor seasonal itu, realisasi investasi secara umum mengalami perlambatan pada tahun menjelang pilpres dan ketika pilpres berlangsung, seperti 2014, 2009, dan 2004. Sektor manufaktur juga menjadi bagian yang dipengaruhi oleh faktor seasonal,” ujarnya Rabu (30/1/2019).

Namun, dengan kondisi penurunan realisasi investasi yang terjadi sejak dua tahun sebelum pemilihan presiden, Faisal menyebutkan hal ini disebabkan oleh faktor fundamental, yaitu iklim bisnis industri pengolahan. Pasalnya, pada saat yang sama, realisasi investasi di sektor jasa mengalami kenaikan.

Sektor jasa mencatatkan kenaikan realisasi investasi sebesar 25,08% secara tahunan dari Rp293,4 triliun menjadi Rp367 triliun sepanjang tahun lalu.

Lebih jauh, dia menyebutkan, realisasi investasi di sektor-sektor yang memiliki basis pasar domestik dan ekspor yang kuat, seperti industri makanan, farmasi, dan otomotif, masih relatif baik. Namun, untuk sektor yang basis pasarnya tidak sebesar industri makanan dan farmasi, mudah dipengaruhi oleh faktor seasonal dan iklim sektor manufaktur.

Adapun, pada 2018, industri makanan mencatatkan realisasi investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) senilai Rp39,1 triliun atau terbesar ketiga setelah sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi senilai Rp58,7 triliun, dan sektor konstruksi senilai Rp45 triliun.

Dari penanaman modal asing (PMA), sektor industri pengolahan yang masuk ke dalam 5 besar adalah industri logam dasar, barang logam, bukan mesin, dan peralatannya senilai US$2,2 miliar.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur
Editor : Maftuh Ihsan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top