Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kesenjangan Tinggi, Nilai Aset 26 Orang Terkaya Dunia Setara dengan Separuh Populasi Orang Miskin

Laporan Oxfam yang dipublikasikan menjelang pertemuan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss itu memperlihatkan para miliarder dunia menikmati peningkatan aset senilai US$2,5 miliar setiap harinya pada 2018.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 21 Januari 2019  |  10:51 WIB
Warga beraktivitas di kawasan permukiman padat penduduk, di bantaran Kali Krukut Bawah, Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta, Jumat (20/7/2018). - ANTARA/Aprillio Akbar
Warga beraktivitas di kawasan permukiman padat penduduk, di bantaran Kali Krukut Bawah, Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta, Jumat (20/7/2018). - ANTARA/Aprillio Akbar

Bisnis.com, JAKARTA -- Laporan terbaru Oxfam menunjukkan bahwa kekayaan 26 orang terkaya di dunia setara dengan yang dimiliki separuh warga dunia yang paling miskin.

Laporan ini dirilis pada Senin (21/1/2019). Dalam laporan itu, Oxfam memperlihatkan para miliarder dunia menikmati peningkatan aset senilai US$2,5 miliar setiap harinya pada 2018.

Kekayaan CEO Amazon Jeff Bezos, orang terkaya di dunia misalnya, meningkat jadi US$112 miliar pada tahun lalu. Oxfam memaparkan 1% dari aset Bezos setara dengan anggaran kesehatan di Ethiopia, negara berpenduduk 105 juta jiwa di Afrika Timur.

Ketika para miliarder dunia menikmati kekayaan yang bertambah, pada saat bersamaan 3,8 miliar orang yang hidup di garis kemiskinan harus menerima kenyataan bahwa aset mereka menurun 11%, tulis Oxfam dalam laporannya, yang dipublikasikan menjelang pertemuan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss.

Oxfam menggarisbawahi besarnya jurang antara orang kaya dan miskin telah merusak usaha memerangi kemiskinan, mengganggu perekonomian, dan menciptakan kemarahan publik.

"Orang-orang di berbagai penjuru dunia marah dan frustrasi," kata Direktur Eksekutif Oxfam Winnie Byanyima, seperti dilansir dari Channel News Asia, Senin (21/1).

Oxfam menemukan selama periode 1980-2016, orang-orang miskin di dunia hanya mengantongi 12 sen dari setiap satu dolar AS nilai pertumbuhan ekonomi global. Berbanding terbalik dengan 27 sen yang mampu diperoleh oleh 1% orang terkaya di dunia.

Kesenjangan yang begitu besar ini disebut disebabkan oleh alokasi anggaran untuk kesehatan dan pendidikan yang minim serta terjadi bersamaan ketika orang-orang kaya justru dikenakan pajak yang rendah.

Kesenjangan yang terjadi di berbagai negara sebenarnya telah mendorong seruan untuk menaikkan pajak bagi orang kaya. Di AS, anggota Kongres Alexandria Ocasio-Cortez menarik perhatian awal bulan ini ketika mengajukan peraturan yang membebankan pajak sebesar 70% bagi orang super kaya di negara itu.

Langkah itu diambil setelah Presiden AS Donald Trump melakukan reformasi pajak dengan memotong rasio pajak dari 39,6% menjadi 37% pada tahun lalu.

Sementara itu di Eropa, gerakan "rompi kuning" telah melakukan aksi selama 10 pekan sejak November2018 di Prancis. Mereka menuntut Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk menarik kebijakan pemangkasan pajak kekayaan bagi orang berpenghasilan tinggi.

"Orang kaya dan korporasi membayar pajak lebih rendah dibandingkan beberapa dekade sebelumnya," tulis Oxfam.

Lembaga non profit ini juga menekankan bahwa banyak orang yang belum memperoleh akses pendidikan dan kesehatan. Laporan mereka mengungkapkan setiap harinya ada 10.000 orang yang mati karena tidak memiliki akses terhadap layanan kesehatan yang murah.

Oxfam juga mendapati jika orang terkaya di dunia dikenai pajak 0,5% lebih tinggi, maka jumlahnya akan cukup untuk membiayai pendidikan 262 juta anak dan membantu perawatan kesehatan bagi 3,3 juta orang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

orang terkaya kesenjangan ekonomi
Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top