Kawasan Industri Makassar Bakal Diperluas

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan di kawasan tersebut saat ini terdapat 250 perusahaan dan lahannya sudah sangat terbatas. Bahkan, bisa disebut lokasinya hampir habis terjual.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 18 Januari 2019  |  21:03 WIB
Kawasan Industri Makassar Bakal Diperluas
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (ketiga kiri) berdampingan bersama Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam (kiri), Direktur PT Toyota Astra Motor (TAM) Darmawan Widjaja (kanan), Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman (kedua kiri) dan Anggota Komisi VI DPR Dito Ganinduto (kedua kanan) sesaat setelah acara peluncuran Program Pendidikan Vokasi Industri di Kawasan Industri Makassar (Kima) Sulawesi Selatan, Rabu (16/1/2019). - TMMIN

Bisnis.com, JAKARTA - Kawasan Industri Makassar bakal diperluas hingga 1.000 hektare menyusul tingkat keterisian yang hampir penuh.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan di kawasan tersebut saat ini terdapat 250 perusahaan dan lahannya sudah sangat terbatas. Bahkan, bisa disebut lokasinya hampir habis terjual.

"Jadi, perlu perluasan lagi, sehingga nanti mampu menampung banyak investor yang masuk," ujarnya, Jumat (18/1/2019).

Total area KI Makassar tercatar seluas 270,84 hektare dan telah terjual mencapai 237,39 hektares, sehingga sisa sekitar 33,45 hektare. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan telah merekomendasikan lokasi untuk perluasan kawasan industri baru, KI Makassar 2 di Kabupaten Maros sebagai bagian konsep pengembangan wilayah Makassar, Maros, Sungguminasa, Gowa, dan Takalar.

Airlangga menjelaskan pihaknya mengakselerasi perluasan KI Makassar karena sejalan upaya pemerintah memacu pertumbuhan serta pemerataan industri dan ekonomi di kawasan timur Indonesia. Apalagi, Indonesia menjadi salah satu negara tujuan utama investasi, sehingga diproyeksikan banyak pelaku industri yang bakal menanamkan modalnya.

“Sulawesi Selatan merupakan gerbang perekonomian di bagian timur Indonesia. Karena itu, Sulawesi Selatan butuh kawasan industri yang lebih luas lagi dari sekarang ini. Diproyeksikan penambahannya sebesar 1.000 hektare,” lanjut Airlangga.

Dia juga menyebutkan dengan menggaet lebih banyak investor yang masuk ke Sulawesi Selatan, diyakini akan memberikan efek berantai yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah mulai dari peningkatan nilai tambah bahan baku hingga penyerapan tenaga kerja lokal.

Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen untuk terus menciptakan iklim investasi yang kondusif serta memberikan kemudahan terhadap perizinan usaha dan penyediaan lahan di kawasan industri. Saat ini, pemerintah telah menerapkan sistem Online Single Submission (OSS) secara terintegrasi.

“Apabila investor masuk, kemudian melakukan pembebasan tanah sendiri, tentu prosesnya lebih lama. Tetapi kalau mereka masuk ke kawasan industri, sudah bisa langsung membuat pabriknya dan tersedia fasilitas penunjangnya,” tutur Airlangga.

Di samping itu, perluasan kawasan industri juga terkait dengan program utama pemerintah untuk menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih banyak. “Lapangan pekerjaan yang berkelanjutan itu salah satunya ada di sektor industri."

Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman menyampaikan pihaknya sedang mengkaji lahan di Kabupaten Maros sebagai lokasi yang paling tepat untuk perluasan KI Makassar 2.

“Lahan di KI Makassar sendiri sekarang sudah hampir habis, karena banyak peminat. Makanya, kami diminta untuk memfasilitasi ketersediaan lahan minimal 1.000 hektare, dan ini sudah dikoordinasikan,” ungkapnya.

Salah satu tenant di KI Makassar adalah PT Bogatama Marinusa (Bomar) yang merupakan perusahaan pengolah hasil laut. Bomar telah mampu menembus pasar ekspor, terutama di Jepang dengan jangkauan bisnis ke supermarket, chain restaurants, dan food service industry.

Bomar menciptakan pertambakan ke arah industri dengan beralih dari tambak yang digali menjadi sistem lego (bertumpuk) untuk menghindari penyakit dan dampak perusakan lingkungan. Industri ini juga sudah mengarah pada penerapan industri 4.0 dengan memanfaatkan research and development (R&D) dan mengembangkan inovasi yang berbeda sesuai preferensi masing-masing pasar dengan pabrik yang sudah sepenuhnya otomatis.

“Pengembangan produk kami memanfaatkan peningkatan pendapatan masyarakat dan kebutuhan akan produk pangan berkualitas. Pasar dunia yang dinamis meningkatkan kebutuhan produk pangan jadi maupun setengah jadi. Ini juga ikut mendorong kebutuhan produk agrikultur seperti sayur dan bumbu,” kata Presiden Direktur Bomar Tigor Cendrama.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kawasan industri

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top