Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bank Indonesia: Potensi Resesi AS Kecil

Bank sentral Tanah Air melihat peluang terjadinya krisis di AS secara hitungan ekonomi relatif minim.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 26 Desember 2018  |  15:04 WIB
Gedung/gedung perkantoran di Washington DC, AS.
Gedung/gedung perkantoran di Washington DC, AS.

Bisnis.com, JAKARTA - Bank sentral Tanah Air melihat peluang terjadinya krisis di AS secara hitungan ekonomi relatif minim. 

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Dody Budi Waluyo mengungkapkan kendati potensinya kecil, bank sentral tetap perlu memperhatikan konstelasi politik di AS yang cenderung memanas. 

"Politik di AS yang cenderung memanas dalam beberapa minggu terakhir dapat mempengaruhi sentimen investor di pasar keuangan global," ungkap Dody, Senin (24/12).

Pelaku pasar telah melihat potensi resesi AS sejak awal bulan Desember. Ini terlihat dari munculnya gejala inverted yield curve di US Treasury. Saat ini, yield US Treasury (UST) tenor pendek satu tahun dan panjang 10 tahun mulai dekat.

Yield UST tenor satu tahun berkisar 2,70%-2,6% per 19 Desember 2018. Sementara itu, yield UST tenor 10 tahun mencapai 2,77%-2,98%. Seperti diketahui, sejumlah seri resesi di AS seringkali ditandai dengan munculnya inverted yield curve

Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David E. Sumual mengungkapkan spread yield antara UST tenor panjang dan pendek sebenarnya memang masih tipis. Namun, probabilitasnya diperkirakan membesar ke depannya. 

"Itu kenapa the Fed akan memperlambat kenaikan FFR dari semula empat kali. Jadi kemungkinan besar 2 kali," ungkap David, Rabu (26/12). Pasalnya, bank sentral AS ini telah melihat sinyal bahwa tahun depan perlambatan ekonomi cukup besar. Perlambatan ekonomi ini bisa mendorong terjadinya resesi. 

Adapun, kondisi ini diperkirakan dapat berdampak positif dan juga negatif. Untuk investasi portofolio, David melihat kondisi ekonomi AS ini dapat berdampak positif terhadap aliran dana ke dalam negeri. Di sisi lain, David mengkhawatirkan dampak pelemahan ekonomi AS ini akan memberatkan kondisi trade war sehingga akan turut mempengaruhi kinerja dagang Indonesia. 

Namun, dia meyakini dampaknya terhadap Indonesia tidak akan sebesar negara lain seperti Malaysia dan Thailand yang telah masuk sebagai jaringan rantai pasok global. David menyarankan agar pemerintah tidak lengah terhadap kondisi ini dan terus berupaya untuk melakukan perbaikan fundamental terhadap kondisi ekonomi di Tanah Air. 

"Otoritas jangan terlalu bergantung pada aliran dana yang masuk ke portofolio karena sifatnya come and go. Jangan lengah, tetap harus melakukan perbaikan struktural," ujar David. 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia ekonomi amerika serikat
Editor : Fajar Sidik

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top