Kecelakaan Lion Air JT 610: Black Box, Ping Locater, ROV, dan Syal Korban

Kerja keras pencarian seakan mulai terbayar saat pada Rabu (31/10/2018) tim gabungan berhasil menemukan titik yang diduga lokasi reruntuhan pesawat.
Saeno | 01 November 2018 12:37 WIB
Personel Basarnas melakukan penyelaman untuk mencari korban pesawat Lion Air bernomor penerbangan JT-610 rute Jakarta-Pangkalpinang yang jatuh di laut utara Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018). - ANTARA/Basarnas

Bisnis.com, JAKARTA - Pencarian pesawat Lion AIr JT 610 yang jatuh di perairan Karawang akhirnya menemukan hasil.

Kerja keras pencarian seakan mulai terbayar saat pada Rabu (31/10/2018) tim gabungan berhasil menemukan titik yang diduga lokasi reruntuhan pesawat.

Empat titik sempat ditelusuri, dua titik pertama ternyata tempat reruntuhan kapal dan titik ketiga adalah lokasi jaring yang tampaknya digunakan untuk menangkap ikan. Barulah pada titik keempat ditemukan serpihak bagian pesawat.

Namun, evakuasi belum bisa dilakukan pada Rabu. Selain arus bawah laut yang kencang, kapal pun tak bisa sandar atau lego jangkar karena lokasi puing pesawat yang berada di sekitar pipa pemboran minyak milik Pertamina. 

Sementara itu, tanpa lego jangkar, kapal akan bergerak terbawa arus. Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto sampai meminta clearance dari Pertamina soal lokasi yang bisa digunakan untuk lego jangkar.

Hari ini, Kamis (1/11/2018) pencarian membuahkan hasil. Tim penyelam TNI AL menemukan benda yang pada Rabu diduga kuat sebagai kotak hitam (black box) pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat.

Benda yang merekam suara terakhir di pesawat sebelum jatuh itu ditemukan di kedalaman 30 meter lewat alat Remotely Operated Vehicle (ROV) yang dimiliki kapal Baruna Jaya I.

Awalnya ROV menemukan serpihan badan pesawat dan sebuah syal yang diduga milik korban. Petugas kemudian membawa ping locater untuk menangkap sinyal 'beep' dari kotak hitam tersebut.

Black box (kotak hitam) pesawat Lion Air JT 610 beregistrasi PK-LQP itu ditemukan berdasarkan petunjuk lokasi yang ditangkap Kapal Baruan Jaya I milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Setelah diangkut dari dasar laut, tim langsung membawa benda yang diduga kotak hitam itu ke Kapal Baruna Jaya I. Sementara penyelam terus melakukan pencarian serpihan lain.

Transponder USBL Baruna Jaya 

Rabu (31/10/2018), BPPT merilis keterangan resmi yang disampaikan Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam BPPT,  Hammam Riza.

“Posisi kotak hitam itu terdeteksi oleh Transponder USBL Kapal Baruna Jaya I sekitar pukul 12.25 WIB, Rabu, (31/10/2018),” tulis ketarangan resmi BPPT yang dilansir Rabu malam tersebut.

Sementara itu Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT, M. Ilyas, yang berada di Kapal Baruna Jaya I mengatakan bahwa koordinat sinyal black box itu terdeteksi di dua lokasi.

- Lokasi 1,   di koordinat 05º 48’ 48.051” Lintang Selatan,  107 º  07’ 37.622” Bujur Timur

- Lokasi 2,  di koordinat 05 º 48’ 46.545” Lintang Selatan, 107º 07’ 38.393” Bujur Timur.

Dua titik lokasi itulah yang menjadi fokus penyelaman hari ini, Kamis (1/11/2018).

19.35 WIB, proses pemindahan korban dari KN SAR Basudewa ke Posko Taktis JICT #basarnas #lionairJT610 pic.twitter.com/QQzOhmDRCl

Kini, black box sudah ditemukan, tim investigasi akan menelisik percakapan apa saja yang terjadi di kokpit pesawat sebelum kecelakaan itu merenggut 187 penumpang yang hendak menuju Pangkal Pinang.

Sumber : Antara/Bisnis.com/Twitter

Tag : lion air jatuh, black box
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top