Efek Perang Dagang Mulai 'Menggigit'. Indeks Manufaktur Sejumlah Negara Asia Berkontraksi

Indeks manufaktur sejumlah negara di Asia berkontraksi pada Oktober. Hal ini menggarisbawahi efek pergolakan yang diakibatkan perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China.
Renat Sofie Andriani | 01 November 2018 15:36 WIB
Perang dagang AS-China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks manufaktur sejumlah negara di Asia berkontraksi pada Oktober. Hal ini menggarisbawahi efek pergolakan yang dipicu perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China.

Kontraksi tersebut mengikuti bukti perlambatan di China yang telah mendorong pemerintah Tiongkok menjanjikan langkah-langkah baru untuk memicu pertumbuhan.

Sebagai tanda terbaru atas menjalarnya dampak perang dagang, indeks manajer pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) sektor manufaktur yang dirilis Nikkei untuk Taiwan, Thailand, dan Malaysia turun ke wilayah kontraksi selama Oktober.

PMI Taiwan turun dari 50,8 pada September menjadi 48,7 pada Oktober, level terendah dan kontraksi pertama sejak Mei 2016. PMI Malaysia turun menjadi 49,2 dari 51,5, sedangkan PMI Thailand turun dari 50 pada September menjadi 48,9 bulan lalu, terendah sejak November 2016.

Angka di atas 50 menandakan sektor manufaktur bergerak ekspansif, sedangkan angka di bawah 50 menunjukkan kontraksi.

“Perlambatan di China akibat perang dagang memengaruhi negara-negara berekonomi terbuka yang lebih kecil di Asia,” ujar Ben Emons, kepala ekonom dan kepala manajemen portofolio kredit di Intellectus Partners, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (1/11/2018).

Asia diketahui sangat rentan terhadap tensi perdagangan mengingat peran kuncinya dalam rantai pasokan manufaktur China. Kawasan ini berkontribusi sekitar 60% dari pertumbuhan global.

“Risiko penurunan prospek ekonomi global untuk 2019 meningkat,” kata Rajiv Biswas, kepala ekonom Asia Pasifik di IHS Markit, Singapura.

Sementara itu, indeks manufaktur Korea Selatan tercatat turun ke level 51 dari 51,3 pada September dan PMI  Indonesia turun tipis menjadi 50,5 dari 50,7, masih berada dalam laju ekspansi.

Di sisi lain, PMI manufaktur Caixin China beringsut lebih tinggi menjadi 50,1 dari 50, bergerak dalam arah yang berlawanan dari laporan manufaktur resmi yang dirilis hari Rabu. Adapun PMI Vietnam meningkat ke 53,9 dari 51,5 dan PMI Jepang naik menjadi 52,9 pada Oktober dari 52,5 sebulan sebelumnya.

 

Tag : indeks manufaktur, perang dagang AS vs China
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top