Indonesia Angkat Komitmen Jaga Terumbu Karang di OOC 2018

Indonesia akan memanfaatkan Our Ocean Conference 2018 untuk mengajak negara-negara lain atau pihak lain berkomitmen dalam pengelolaan terumbu karang.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 29 Oktober 2018  |  12:37 WIB
Indonesia Angkat Komitmen Jaga Terumbu Karang di OOC 2018
Sejumlah delegasi dan tamu berfoto bersama jelang pembukaan Our Ocean Conference (OOC) 2018 di Nusa Dua, Bali, Senin (29/10/2018). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, DENPASAR – Indonesia akan memanfaatkan Our Ocean Conference 2018 untuk mengajak negara-negara lain atau pihak lain berkomitmen dalam pengelolaan terumbu karang.  

Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Suseno Sukoyono mengatakan komitmen ini sifatnya akan lebih kuat dari sekedar perjanjian. Pasalnya, di dalamnya akan terdapat mekanisme yang membahas mulai dari pendanaan hingga luasan terumbu karang.

Setiap pihak yang berpartisipasi dalam komitmen itu akan bertanggung jawab melalui mekanisme kajian yang sudah ditetapkan. Sehingga ini akan menekan kemungkinan terjadinya pelanggaran.
 
“Ini yang akan kita buat, jadi muncul terobosan baru, bukan hanya omongan, Indonesia sekarang akan tampil sebagai leadership,” katanya, Minggu (28/10/2018).
 
Menurut Suseno, komitmen ini penting sebab terumbu karang telah menjadi rumah bagi 2.500 spesies mamalia di laut. Jika terumbu karang rusak, maka akan mempengaruhi ekosistem laut.

Indonesia pun sangat bergantung pada ekosistem laut. Komitmen ini tidak hanya mengajak pemerintah negara mitra, tetapi juga Non-Governmental Organization (NGO) dan pelaku bisnis untuk ikut serta. 
 
Saat ini, sebanyak 50% terumbu karang di Indonesia berada dalam kondisi sangat jelek hingga lumayan. Kondisi terumbu karang yang berkatagori sangat baik hanya di bawah 10%. 
 
Dia mencatat penyebab kondisi tersebut yakni mulai dari perubahan iklim dan polusi dari manusia. Sehingga, dalam Our Ocean Conference (OOC) 2018, pihaknya akan mengusulkan dibahasnya isu keamanan maritim untuk membahas masalah ini. 
 
"Kalau enggak ada laut, manusia susah hidup, penyangga utamanya kan terumbu karang. Sekarang karena orang merasa itu [terumbu karang] di dalam laut, jadi susah memahami pentingnya," papar Suseno.   
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
terumbu karang

Editor : Annisa Margrit
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top