Transfer Teknologi dari Finlandia Mampu Genjot Industri Pulp Indonesia

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menilai teknologi yang diterapkan dalam industri kayu dan kertas di Finlandia dapat ditransfer ke Indonesia untuk meningkatkan industri dalam negeri.
Wibi Pangestu Pratama | 09 Oktober 2018 16:44 WIB
Pekerja meninggalkan alat berat dan tumpukan kayu tanaman industri yang sudah dipanen di area Estate Pelalawan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) di Kabupaten Pelalawan, Riau, Jumat (20/10). - ANTARA/FB Anggoro

Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menilai teknologi yang diterapkan dalam industri kayu dan kertas di Finlandia dapat ditransfer ke Indonesia untuk meningkatkan industri dalam negeri.

Hal tersebut disampaikannya saat menyambut kunjungan Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Pembangunan Finlandia, Anne-Marie Virolainen di Jakarta, Senin (08/10) petang. Kunjungan tersebut bermaksud untuk penjajakan peluang kerjasama baru Indonesia-Finlandia dalam bidang manufaktur.

Dalam pertemuan tersebut, Airlangga menjelaskan bahwa Finlandia telah menguasai teknologi permesinan, kelistrikan, industri logam, transportasi, kayu dan kertas, serta kimia. Penguasaan teknologi tersebut dinilai dapat ditransfer ke Indonesia untuk pengembangan produksi.

“Oleh karena itu, kami mengharapkan adanya langkah sinergi kedua belah pihak untuk melakukan transfer teknologi tersebut,” ujar Airlangga dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis pada Senin malam.

Airlangga menjelaskan industri kertas Indonesia menempati peringkat enam dunia dan industri pulp menempati peringkat sepuluh dunia. Di dalam negeri sendiri industri kertas menempati peringkat pertama dan industri pulp menempati peringkat tiga untuk ekspor produk kehutanan 2011-2017.

Industri kertas dan pulp sendiri mencatatkan kontribusi terhadap devisa negara sebesar US$5,8 miliar pada 2017. Jumlah tersebut didapat dari ekspor pulp sebesar US$2,2 miliar ke negara tujuan utama yakni China, Korea, India, Bangladesh, dan Jepang. Ekspor kertas mencatatkan nilai lebih tinggi yakni US$3,6 miliar dengan tujuan Jepang, Amerika Serikat, Malaysia, Vietnam, dan China.

Selain transfer teknologi, kegiatan penelitian dan pengembangan pun akan turut dikembangkan dalam dalam kerjasama tersebut. Kedua rencana itu dinilai dapat mendorong produksi industri kertas dan pulp di Indonesia.

Kedua negara pun sepakat untuk mengembangkan teknologi energi terbarukan serta pendidikan di bidang vokasi. Pengembangan ini dinilai sejalan dengan peta jalan Making Indonesia 4.0 yang digerakkan pemerintah.

Tag : manufaktur
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top