Pengembang dan Desainer Usul Kerjasama dengan AS

Pengembang mengusulkan untuk mengatasi krisis ekonomi dan kendala material untuk bangunan, pemerintah Indonesia segera melakukan konsolidasi dengan Amerika untuk melakukan kerjasama government to government atau G-to-G.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 06 September 2018  |  20:54 WIB
Pengembang dan Desainer Usul Kerjasama dengan AS
Perbandingan kurs rupiah tahun 1998, 2008, dan 2018. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA -- Pengembang mengusulkan untuk mengatasi krisis ekonomi dan kendala material untuk bangunan, pemerintah Indonesia segera melakukan konsolidasi dengan Amerika untuk melakukan kerjasama government to government atau G-to-G.

Sekretaris Jenderal DPP Realestat Indonesia Paulus Totok Lucida mengusulkan pemerintah untuk melakukan kerjasama G-to-G dengan Amerika supaya kegiatan impor bahan baku, khususnya material bangunan tidak mengalami hambatan.

"Kita imbau pemerintah G to G ke Amerika kalau tidak, nanti bisa krisis dunia. Ini kan tidak hanya di Indonesia," ujar Paulus Totok kepada Bisnis, Kamis (6/9/2018).

Dia menyebut kita tidak bisa secara sederhana membandingkan kondisi perekonomian Indonesia dengan negara lain yang juga mengalami penguatan dolar dan melemahkan mata uangnya sendiri. Maka, pemerintah harus mengupayakan kebijakan yang secara internal memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat Indonesia.

"Masyarakat membutuhkan kepastian dan harus ada solusi, AS tahu ini krisis berhubungan dengan negara lain. Jadi coba approach G to G. Ini bukan bidang pengusaha lagi, harus pemerintah yang turun tangan," jelas Totok.

Ketua Umum Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) Lea Aziz mengatakan industri bahan material untuk interior mayoritas adalah bahan impor. Dia mengatakan dengan tren pelemahan rupiah yang mendorong kebijakan menaikkan pajak penghasilan (PPh) Pasal 22 menjadi 10% terhadap lebih dari 600 barang konsumsi yang diimpor.

"Ini perlu bantuan pemerintah supaya infrastruktur bisa tetap terbangun baik tetapi jangan membuat kontraktor dalam negeri berantakan. Kita sudah lihat kontraktor dari luar negeri untuk interior saja sudah mulai masuk," kata Lea.

Lea mengatakan, umumnya kontraktor interior asing yang paling banyak masuk ke Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini berasal dari Eropa, disusul dari Korea, dan Malaysia. Misalnya saja di Jepara, Lea bercerita, banyak desainer interior Korea yang berkolaborasi dengan pelaku industri di Jepara.

"Ini enak dia, kita tak enak. Dia membuat biaya produksi di Indonesia menjadi lebih murah. Tetapi dia akan mengekspor dari Indonesia dolar sedang tinggi. Jadi jangan sampai kita jadi tamu di negara sendiri," terang Lea.

Dia menambahkan, semoga produk material yang ada di Indonesia ketika dolar naik langsung dijual dengan harga murah. Dia juga berpesan harga bahan baku di Indonesia jangan dinaikkan, dan jangan sampai dalam rantai produksi akhirnya diekspor daripada untuk di dalam negeri.

"Maka belilah produk industri dalam negeri, interior Indonesia sudah lumayan kok," tutur Lea.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dampak pelemahan rupiah

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top