KKP Dukung Kotim jadi Sentra Ikan Patin Nasional

Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang terletak di Kalimantan Tengah dinilai layak menjadi sentra ikan patin nasional.
Juli Etha Ramaida Manalu | 31 Agustus 2018 20:52 WIB
Ikan patin - Istimewa
Bisnis.com, JAKARTA—Di samping potensi yang besar, penerapan budidaya ikan berbasis kawasan sebagai bentuk budidaya bertanggung jawab dan ramah lingkugan membuat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang terletak di Kalimantan Tengah dinilai layak menjadi sentra ikan patin nasional.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto menyebutkan program-program pengembangan klasterisasi kawasan berbasis komoditas unggulan daerah maupun penerapan teknologi ramah lingkungan yang dilakukan pemda Kotawaringin Timur sangat ampuh untuk percepatan pengembangan kawasan.
Hal ini karena pada prinsipnya setiap komoditas yang dikembangkan memiliki karakteristik yang khas sesuai kondisi lokasi.
“Kami apresiasi pengembangan perikanan budidaya khususnya di Kabupaten Kotim ini karena telah menerapkan kawasan budidaya berbasis komoditas. Kebijakan ini tentu sesuai dengan yang telah digariskan KKP”, katanya dalam keterangan resmi, Jumat (31/8/2018).
 
Salah satu desa yang ada di Kabupaten ini, yakni Desa Bapeang Kecamatan Menawa Baru, Ketapang ditetapkan sebagai salah satu kawasan pengembangan patin.
Di desa ini terdapat sekitar 220 kolam di mana 45 diantaranya dalam keadaan siap panen dengan hasil sedikitnya 40 ton.
Setiap kolam diketahui berukuran rata-rata 20x10 meter yang berisikan 2.500 ekor benih patin. Setelah pemeliharaan sekitar 5-6 bulan, para pembudidaya disebut bisa memanen 700 kilogram hingga 1 ton patin dari tiap-tiap kolam.
Dengan biaya produksi senilai RP18.000-Rp19.000 per kilogram dan harga jual Rp23.000-Rp25.000, maka para pembudidaya disebut bisa meraup keuntungan Rp4.000-Rp7.000 per kilogramnya atau Rp3 juta-Rp7 juta per kolam.
Slamet menambahkan, konsumsi ikan per kapita dala negeri terus meningat dari sebelumnya 40 kilogra per kapita di 2017 ditargetkan menjadi 53 kg pada 2019. Hal ini tentu harus diikuti dengan keseriusan dalam meningkatkan produksi ikan guna memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Saya rasa langkah pemda Kotim. Saya rasa langkah pemda Kotim sudah tepat. Untuk itu Kotim saya rasa sangat pas menjadi sentra pengembangan Patin nasional,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Kotim M. Taufiq Mukri menyebutkan ada sejumlahkomoditas air tawar utama yang dikembangkan di Kotim yakni patin, nila dan jelawat.
Adapun untuk komoditas air payau yaitu meliputi udang dan bandeng. Masing-masing komoditas telah ditetapkan kawasan pengembangannya.
Ada tiga strategi yang kami lakukan dalam mengembangkan perikanan di Kabupaten Kotim. Pertama kami tata kawasannya, ada yang khusus patin, nila dan tambak udang.
"Kedua, pengemabangan dan pelestarian ikan Jelawat yang menjadi ikon Kota Sampit dan ketiga pengembangan ikan introduksi dengan pola budidaya kolam maupun sistem bioflok” jelasnya.
Sebagai bentuk dukungan, pada kunjungan ini, KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya menyerahkan bantuan berupa 1 juta ekor benih ikan (patin, nila, jelawat dan lele) dan 5 ton pakan mandiri.
Sedangkan untuk meningkatkan kemandirian sekaligus keuntungan usaha pembudidaya, juga segera diserahkan mesin pakan mandiri.
 
Sedangkan untuk pengelolaan dan penataan kawasan lebih lanjut, KKP pada tahun 2019 akan mengupayakan bantuan alat berat eksavator.
Tag : ikan patin, kotawaringin timur
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top