Bisnis.com, JAKARTA — Ekspor produk pertanian Indonesia kian melempem akibat sejumlah tekanan eksternal, kendati sektor agrikultura menjadi penyumbang terbesar kedua dalam pertumbuhan produk domestik bruto nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor produk pertanian pada Januari—Juli 2018 mencapai US$1,87 miliar, anjlok dari capaian US$2,03 miliar pada periode yang sama 2017. Kontribusinya terhadap struktur ekspor nonmigas tahun ini pun mengkerut menjadi hanya 1,80% dari 2,17% tahun lalu.
Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Kementerian Perdagangan Tuti Prahastuti menjelaskan, melempemnya performa ekspor produk pertanian lebih dipicu oleh rendahnya permintaan sejumlah produk agrikultura Indonesia dari negara lain.
“[Akibatnya] Harga [komoditas pertanian] pun terkoreksi karena permintaannya turun, terutama untuk produk-produk andalan Indonesia seperti karet dan kopi,” ujarnya, Senin (20/8).
Dalam hal ini dia mengacu kepada produk pertanian tanaman tahunan, yang menjadi kontributor terbesar secara nilai pada ekspor produk pertanian Indonesia.
Ekspor lini komoditas tersebut sepanjang 7 bulan pertama tahun berjalan terkoreksi 24,22% secara year on year (yoy). Produk kopi, karet, dan lada hitam membukukan penurunan ekspor tertajam, yaitu masing masing turun 37,82%, 16,89% dan 67,24% secara yoy.
Menurut Tuti, pemerintah telah menyiapkan sejumlah antisipasi untuk mengatasi problema itu. Selain mencari negara pasar baru melalui pameran, pemerintah tengah memacu eksportir agar dapat memanfaatan pakta dagang bebas (free trade agreement/FTA) yang sudah terjalin.
Dari kalangan pengusaha, Wakil Ketua Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Pranoto Soenarto mengatakan, penurunan permintaan kopi global dari Tanah Air disebabkan oleh panen serentak yang terjadi di negara penghasil kopi lain, seperti Vietnam.
Kondisi itu menciptakan kelebihan pasokan di pasar global yang berujung pada turunnya harga komoditas tersebut. Pranoto menyebut, dari total produksi kopi nasional, 33% di antaranya digunakan untuk konsumsi domestik dan sisanya dijual ke luar negeri.
“Selain itu, kami melihat, dengan kelebihan pasokan global dan rendahnya harga kopi, para petani lokal pun menahan pengiriman kopi ke luar negeri,” ujarnya.
TEKANAN HARGA
Ketua Umum Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) Azis Pane membenarkan, terus melorotnya harga karet dunia sejak awal tahun ini menjadi salah satu pemicu volume dan nilai ekspor produk tersebut terjun bebas.
Berdasarkan data yang dimilikinya, harga karet dunia sempat mencapai US$202/kg pada Januari 2018 dan terus turun hingga menjadi US$160/kg pada awal Agustus tahun ini.
“Ada Vietnam yang baru-baru ini muncul sebagai produsen karet di luar ITRC [International Tripartite Rubber Council]. Pasokan mereka besar karena menyedot produksi dari Laos dan Kamboja dan mereka berhak menentukan harga di luar acuan yang ditentukan ITRC,” ujarnya.
Selain dengan Vietnam, Indonesia juga dinilainya kalah bersaing dengan sesam anggota ITRC. Pasalnya, China sebagai negara konsumen terbesar, lebih memilih mengkapalkan impor karet dari Thailand dan Malaysia yang lebih dekat secara geografis.
Ekonom Indef Rusli Abdullah mengatakan, pemerintah patut mewaspadai tren penurunan ekspor produk pertanian unggulan Indonesia, khususnya kopi. Menurutnya, tingginya permintaan dalam negeri bakal terus menggerus kuota produk kopi yang biasanya diekspor.
“Berdasarkan riset kami, dengan tingkat konsumsi kopi dalam negeri saat ini, pada 2025 Indonesia berpotensi mengimpor kopi,” katanya.
Hal itu, lanjutnya didasarkan pada tren pertumbuhan konsumsi kopi nasional yang akan terkerek 7% per tahunnya hingga 2025. Sementara itu, pertumbuhan produksi kopi dalam negeri hanya berkisar 1%-2% per tahunnya.
Rusli juga memperkirakan, tingkat produksi pertanian yang relatif stagnan dan tidak selaras dengan kenaikan konsumsi dalam negeri akan memaksa RI melanjutkan kebiasaan impor produk pertanian dan pangannya.
Jualan Produk Pertanian Makin Susah?
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian memiliki peran:
- Menyumbang 13,63% dari produk domestik bruto (PDB) kuartal II/2018, tertinggi kedua setelah industri pengolahan.
- Lapangan usaha sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 9,93% pada kuartal II/2018 dari kuartal sebelumnya, dipicu oleh panen raya subsektor hortikultura (22,86%) dan perkebunan (26,73%).
- Produksi berbagai komoditas pertanian (gabah, cabai, jagung, dan bawang merah) diklaim meningkat tertinggi dalam 1 dekade terakhir.
Namun, mengapa ekspor dari sektor pertanian justru semakin menurun? Sepanjang Januari—Juli 2018, nilai ekspor produk pertanian hanya US$1,87 miliar alias merosot 7,5% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Apa yang salah dengan perdagangan produk pertanian Indonesia?
Komposisi Ekspor Nonmigas Indonesia (juta US$)
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Lini Komoditas Jan—Jul 2017 Jan—Jul 2018 Perubahan (%)
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pertanian 2.032 1.879 -7,50
Industri Pengolahan 70.059 74.820 6,80
Pertambangan dll 12.741 17.509 37,43
Total ekspor 84.832 94.210 11,05
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ekspor Produk Pertanian Indonesia (juta US$)
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Lini Komoditas Jan—Jul 2017 Jan—Jul 2018 Perubahan (%)
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pertanian tanaman semusim 72.773 154.061 111,70
Pertanian tanaman tahunan 1.425.152 1.079.978 -24,22
Pertanian tanaman hias dan 6.778 6.981 3,00
Peternakan 179.988 198.861 10,49
Satwa liar 341 220 -35,51
Pengusahaan hutan 7.213 10.795 49,65
Kayu 403 416 3,25
Hasil hutan bukan kayu 93.000 119.724 28,74
Perikanan tangkap 143.681 142.294 -0,97
Perikanan budidaya 102.736 166.388 61,96
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ekspor Komoditas Pertanian Tanaman Tahunan (juta US$)
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Komoditas Jan—Jul 2017 Jan—Jul 2018 Perubahan (%)
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Kopi 711.415 442.387 -37,82
Tanaman obat & rempah 374.494 335.628 -10,38
Lada hitam 61.987 20.310 -67,24
Lada putih 66.866 51.257 -23,34
Biji kakao 24.870 36.046 44,94
Cengkih 15.981 23.120 44,68
Lada lainnya 5.240 5.613 7,11
Teh 1.984 4.076 105,46
Karet alam 5.926 4.920 -16,98
Buah-buahan 155.994 156.375 0,24
Lainnya 391 247 -36,95
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS), 2018