Tumbuh 15% pada Semester I/2018, Bagaimana Nasib Industri Ritel di Semester II?

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) berharap pertumbuhan industri ritel pada semester I/2018 yang mencapai 15% dapat dipertahankan hingga akhir tahun, kendati momentum panen Lebaran telah usai.
M. Richard | 24 Juli 2018 13:33 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) berharap pertumbuhan industri ritel pada semester I/2018 yang mencapai 15% dapat dipertahankan hingga akhir tahun, kendati momentum panen Lebaran telah usai.

Penasihat Aprindo Handaka Santosa mengatakan pertumbuhan tersebut merupakan sebuah pencapaian yang tidak terduga, karena selama 3 tahun terakhir pertumbuahan industri ritel hanya berkisar 7%—8%.

"Pertumbuhannya [ritel] sudah sangat baik, cukup memuaskan, dia sudah dua digit, lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya," katanya, Senin (23/7).

Dia menjelsakan indikator yang menstimulasi pertumbuhan industri ritel pada paruh pertama tahun ini adalah bertambahanya pendapatan masyarakat pada awal tahun dan tunjangan hari raya saat Lebaran.

Hal tersebut membuat daya beli masyarakat bertambah cukup signifikan, sehingga mereka tidak ragu berbelanja. "Memang Lebaran adalah momentum pertumbuhan ritel tertinggi [setiap tahunnya] karena memang mayoritas masyarakat kita muslim."

Handaka mengatakan pertumbuhan ritel semester II/2018 akan lebih disetir oleh ajang Asian Games 2018, IMF-World Bank Annual Meeting 2018, libur Natal dan Tahun Baru. Hanya saja, angkanya tidak akan dapat menyaingi pertumbuhan pada semester pertama.

Meski industri ritel saat ini sudah tumbuh cukup baik, dia menyayangkan masih adanya beberapa kendala seperti belum adanya mekanisme yang dapat dapat menyetarakan pengusaha ritel berbasis daring dan luring.

Menurutnya, mekanisme pemungutan pajak bagi pelaku usaha ritel luring sangat jelas, sedangkan bagi pelaku ritel daring tidak, terutama untuk transaksi yang dibuat melalui media sosial.

Selain itu, katanya, pemerintah membuat peraturan yang kontraproduktif dengan penerapan rekayasa lalu lintas ganjil genap dalam ajang Asian Games 2018.

“Hal tersebut, bukan hanya mengganggu kelancaran logistik dari pelaku ritel, tetapi juga wisatawan mancanegara dan penduduk lokal yang ingin berbelanja,” tegasnya.

Sebelumnya, Executive Director Nielsen Company Indonesia Yongky Susilo menggarisbawahi kemungkinan turunnya kinerja ritel selepas Lebaran atau sekitar Juli. Meskipun hal tersebut adalah siklus yang wajar, dia memperkirakan kinerja ritel akan kembali tumbuh pada Agustus dan September berkat pergelaran Asian Games 2018.

“Performa kuartal III masih akan sustain. Nah, yang perlu dipikirkan adalah kuartal IV. Diperlukan stimulus seperti paket kebijakan agar [momentum optimisme bisnis ritel] bisa bertahan selama dua tahun ke depan.”

Jika pemerintah dapat merangsang pertumbuhan konsumsi rumah tangga hingga 6% sehingga bisnis ritel kembali bergairah, dia meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu mencapai level 52,%-5,4%.

Tag : ritel modern
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top