Asbindo Tagih Janji Pemerintah Kembangkan Florikultura

Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo) masih menanti dan mengharapkan kebijakan pemerintah berupa keringanan fiskal agar budidaya bunga atau florikultura di Indonesia dapat tumbuh dan berkembang.
Newswire | 20 Juli 2018 12:52 WIB
Kebun anggrek - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -  Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo) masih menanti dan mengharapkan kebijakan pemerintah berupa  keringanan fiskal agar budidaya bunga atau florikultura di Indonesia dapat tumbuh dan berkembang.
   
"Mungkin pemerintah dapat meniru kebijakan Pemerintah Thailand dan Vietnam untuk menumbuh kembangkan florikultura mulai subsidi di sektor pajak sampai kepada bantuan pupuk," kata Wakil Ketua Asbindo, Hesti Widayani dalam ajang Indonesia International Landscape and Greenery Exhibition di Jakarta International Expo Kemayoran, Kamis.
   
Hesti menjelaskan, salah satu hal yang memberatkan di sektor perpajakan adalah pengenaan PPN sebesar 10% untuk penjualan bunga.
   
"Jadi ketidakkonsistenan di sini kalau bunga yang dijual eceran tidak kena PPN, tetapi kalau sudah dalam bentuk rangkaian atau beberapa tangkai dikenakan PPN sebesar 10% persen. Usulan kami diseragamkan saja jadi 1%," ujarnya.
   
Persoalan lain yang  seharusnya menjadi perhatian agar sektor florikultura ini berkembang  adalah dukungan penyediaan lahan melalui sewa serta ketersediaan air, bahkan aspek lingkungan.
   
"Pernah petani kami di lereng Gunung Pangrango mengalami kerugian  setelah lahan bunganya tersapu banjir akibat tidak adanya pengendalian lingkungan dari pemerintah daerah setempat," jelas Hesti yang didampingi pengurus Asbindo lainnya.
     
Menurut, Atik Setyawati, Kepala Bidang Organisasi Asbindo untuk menghadapi tantangan tersebut melakukan inovasi mulai dari hulu ke hilir. Melalui inovasi dan teknologi produk  Florikultura dari hulu ke hilir, industri florikultura  mampu mempercepat pertumbuhan pasar domestik maupun peluang ekspor, dapat membantu menekan biaya produksi dan lebih ekonomis bagi para petani florikultura.

"Perusahaan kami menyediakan dan mendorong budidaya  florikultura melalui benih karena lebih efisien dan memberikan hasil lebih besar kepada petani. Kami menyadari pasar tanaman hias di Indonesia mulai mengalami kenaikan. Untuk itu kami siap  memberikan dukungan dengan menyediakan teknologi dan benih unggul," ujar Atiek yang juga Manager Export Import di PT East West Seed Indonesia (Ewindo).
   
Humas Asbindo Damayani Sabini mengatakan, potensi florikultura berdasarkan pengalaman di Vietnam dan Thailand sangat besar terutama dalam memberikan kontribusi bagi devisa. Data terakhir menunjukkan nilai konsumsi Florikultura dunia mencapai sekitar US$150 miliar dolar AS, sedangkan nilai ekspor Indonesia senilai US$20 juta.
   
Dengan demikian, jelas Damayanti, industri florikultura Indonesia mempunyai masa depan yang menjanjikan, potensi Indonesia untuk dapat bersaing di pasar global sangatlah besar. Kekayaan akan bunga tropis belum dapat dimanfaatkan secara optimal, padahal peminatnya di pasar dunia sangat besar.
   
Hesti menambahkan hadirnya Asbindo dalam ajang "Indonesia International Landscape and Greenery Exhibition" untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat pentingnya tanaman hias baik di rumah maupun tempat kerja bagi kesehatan.
   
"Harus diingkat polusi udara yang makin memburuk mengancam kesehatan kaum Urban yang tinggal dikota kota besar di Indonesia. Berdasarkan data dari WHO 2016, kota Jakarta dan Bandung termasuk dalam urutan ke sepuluh dari kota kota dengan pencemaran udara terburuk di Asia Tenggara," ujar dia.
     
Tanpa disadari polusi udara tidak saja di ruang terbuka tetapi di ruang tertutup, faktanya sebagian besar dari kaum urban/ perkotaan berada diruang tertutup (indoor) lebih dari 50 persen dari waktu kegiatannya dalam sehari.
   
Sumber pencemaran dalam ruangan dan gedung , berasal dari asap rokok, polusi dari cat tembok, kurangnya ventilasi dan sirkulasi udara, radiasi dari perangkat komputer dan peralatan elektronik kantor seperti mesin fax, mesin fotocopy
   
Polusi dalam ruangan tertutup seperti di perkantoran, pabrik, mal dan gedung gedung tinggi, berdampak pada turunnya kualitas kesehatan secara fisik dan mental yang disebut dengan "sick  building syndrome".
   
Hadirnya tanaman hias berfungsi sebagai antipolutan filter udara dan  memberikan oksigen, sehingga udara dalam ruangan menjadi lebih bersih dan lebih segar , tutur Hesti.
   
Lebih jauh Teresa M Ineke Turangan, Floral Designer Asbindo mengatakan kreativitas menjadi salah satu tuntutan membuat produk produk florikultura makin menarik dan berfungsi ganda, sebagai antipolutan tetapi juga menciptakan suasana asri, sekaligus meningkatkan pertumbuhan usaha Florikultura.
     
Dalam rangka menundukung acara Expo Urbanscape & Greenery 2018 dan mempromosikan produk Florikultura, Asbindo ikut berpartispasi dalam pameran dan mengadakan Seminar "Healthy Life through Green Eco Environtment" pada Sabtu (21/7), memberikan inspirasi  dan ide kreatif hidup sehat dilingkungan hijau diruangan tertutup maupun untuk ruang terbuka, khususnya kepada kaum Urban yang tinggal di kota kota besar dengan lahan sempit.


Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hortikultura

Sumber : Antara

Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top