Ruang Kerja Bersama Isi Kesenjangan Pasar Akibat Berlebihnya Pasokan Kantor

Di tengah gempuran pasokan bangunan perkantoran dan perubahan kultur kerja yang menekankan fleksibilitas, bisnis co-working space atau ruang kerja bersama di Indonesia semakin dibutuhkan untuk mengisi kekosongan pasar.
Annisa Margrit | 20 Juli 2018 10:40 WIB
Suasana co-working space di Cocowork The Maja, Jakarta Selatan. - cocowork.co

Bisnis.com, JAKARTA -- Di tengah gempuran pasokan bangunan perkantoran dan perubahan kultur kerja yang menekankan fleksibilitas, bisnis co-working space atau ruang kerja bersama di Indonesia semakin dibutuhkan untuk mengisi kekosongan pasar.

Christopher Widyastanto, Associate Director Cushman & Herald, menyebut perkembangan tren co-working space sebagai sebuah revolusi karena mengubah cara orang bekerja menjadi lebih fleksibel dan memberikan peluang untuk membangun jaringan.

Berbagai perusahaan co-working space, termasuk pemain-pemain besar di skala global, telah mulai menjajaki pasar Indonesia karena dinilai memiliki potensi yang besar.

“Terutama untuk mengisi kekosongan di dalam pasar yang saat ini diisi oleh kelebihan pasokan gedung perkantoran dan masih dalam kondisi tenants market,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Jumat (20/7/2018).

Berdasarkan data Cushman & Wakefield, tingkat rata-rata okupansi ruang kerja di Kawasan Pusat Bisnis Jakarta pada kuartal I/2018 turun menjadi 76,67% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sekitar 80,85%. Penyebabnya adalah banyaknya pasokan tambahan yang masuk pada kuartal I/2018.

Harga sewa kotor bulanan ruang perkantoran juga terpangkas 6,67% menjadi US$21,82 per meter persegi. Harga sewa diperkirakan akan tetap berada di bawah tekanan sepanjang tahun ini.

Tingkat kekosongan juga diproyeksi meningkat di tengah kesenjangan antara banyaknya pasokan dan rendahnya permintaan.

“Pasar properti mesti menerima dan melihat perkembangan co-working space sebagai salah satu cara berbisnis, bukan sebagai gangguan di pasar real estat,” kata Christopher.

Dia mengakui bahwa merger dan akuisisi dapat meningkatkan kekuatan perusahaan co-working space lokal di pasar domestik, tapi perusahaan-perusahaan tersebut harus memiliki identitas merek yang unik. Jika tidak, mereka akan dinilai tidak jauh berbeda dari ruang perkantoran tradisional yang menggunakan penataan co-working.

Biasanya, perusahaan co-working space yang sukses memiliki beberapa lokasi perkantoran serta program-program dan berbagai keuntungan yang dapat ditawarkan kepada para anggotanya.

Contohnya, Cocowork, salah satu pelopor ruang kerja bersama di Indonesia, sukses memberikan keuntungan bagi para anggotanya dan membuka sejumlah kantor cabang di lokasi-lokasi strategis di ibu kota.

Cocowork juga memiliki pengalaman yang baik dalam bermitra dengan organisasi atau perusahaan semi-pemerintah di hampir semua kantor cabang dan hal tersebut memberikan kelebihan dibandingkan kompetitor mereka saat ini,” lanjut Christopher.

Meskipun pasar untuk co-working space meningkat, dia memandang ruang perkantoran tradisional tetap diminati oleh sebagian kalangan. Untuk pemilik gedung perkantoran, co-working space dan ruang perkantoran tradisional sebenarnya dapat saling melengkapi satu sama lain.

“Keduanya sangat penting sebagai inkubator perusahaan-perusahaan yang nantinya akan menyewa lebih banyak ruang di bangunan tersebut,” tambah Christopher.

 
Tag : ruang kerja, ruang perkantoran
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top