Semester I/2018, Impor Pangan Indonesia Membengkak

Impor bahan pangan membengkak sepanjang semester I/2018. Komoditas seperti beras, kedelai, gula dan garam menjadi penyumbang terbesar pembelian barang konsumsi dari luar negeri pada periode tersebut.
Yustinus Andri DP | 17 Juli 2018 14:12 WIB
Menjelang Natal dan pergantian tahun, harga bahan pokok di pasar tradisional di Balikpapan mulai naik. - Bisnis.com/Fariz Fadhillah

Bisnis.com, JAKARTA — Impor bahan pangan membengkak sepanjang semester I/2018. Komoditas seperti beras, kedelai, gula dan garam menjadi penyumbang terbesar pembelian barang konsumsi dari luar negeri pada periode tersebut.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan, nilai impor barang konsumsi sepanjang Januari—Juni 2018 mencapai US$8,18 miliar, naik 21,64% secara year on year (yoy). Menurutnya, komoditas pangan menjadi penyumbang terbesar kenaikan impor barang konsumsi tersebut.

“Secara umum, kenaikan paling besar disumbangkan oleh beberapa komoditas  seperti beras, gula dan kedelai,” katanya, Senin (16/7/2018).

BPS mencatat beras, gula, biji gandum dan meslin, serta garam adalah komoditas dengan volume impor terbesar sepanjang semester I/2018. Dari sisi nilai, penyumbang impor terbesar  adalah beras, gula, kedelai, serta biji gandum dan meslin. (Lihat tabel)

Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi) Sutarto Alimoeso mengatakan tingginya impor beras sepanjang Januari—Juni 2018 merupakan sebuah kewajaran. Pasalnya, pada periode tersebut Kementerian Perdagangan menerbitkan izin impor 1 juta ton beras.

“Saya pikir pemerintah tidak ingin ambil risiko terjadinya gejolak di pasar karena stok beras kurang. Maka dari itu, mereka buka keran impor semester I kemarin. [Impor beras] ini masih wajar,” ujarnya.

Dia memperkirakan pada semester II/2018 tidak akan ada impor tambahan yang akan dibuka oleh pemerintah. Pasalnya, hingga saat ini dia belum mendapatkan laporan gangguan di tingkat petani padi selama masa tanam.

Lagipula, impor 1 juta ton beras pada paruh pertama tahun ini dianggapnya sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga akhir tahun. 

GANGGUAN PRODUKSI 

Sebaliknya, Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa memprediksi Kemendag akan menambah izin impor beras pada semester II/2018. Pasalnya, ada potensi ganggua produksi pada musim panen kedua (Agustus—September).

“Sampai saat ini laporan yang masuk ke kami dari masyarakat, telah terjadi serangan hama dan kekeringan di beberapa daerah. Kami akan lihat nanti hasil panen kedua tahun ini bagaimana. Kalau terganggu maka impor tidak akan terbendung lagi,” tegasnya.

Dia menambahkan, kuota izin impor beras pada paruh kedua tahun ini diprediksi akan sama dengan semester I/2018.  Menurutnya, kebijakan tersebut akan dipengaruhi oleh tahun politik pada 2019.

Pemerintah, katanya, akan berusaha mengamankan stok sejumlah bahan pangan pokok strategis terutama beras. Kebijakan tersebut akan digunakan oleh pemerintah untuk menjaga stabilitas harga pangan jelang masa pemilihan presiden pada April 2019.

Dwi mengatakan kondisi serupa juga akan terjadi pada komoditas gula. Apabila berkaca pada kondisi semester I/2018, izin impor gula mentah (GM) diperkirakan kembali dibuka oleh pemerintah pada sisa tahun ini.  

“Terlebih [serapan gula kristal rafinasi oleh] industri makanan minuman cukup tinggi pertumbuhannya. Bukan tidak mungkin kuota izin impor [GM] selanjutnya akan ditambah, meskipun berubah polanya dari semesteran menjadi kuartalan,” lanjutnya.

Kendati demikian, kebijakan tersebut akan menuai kecaman keras dari produsen gula kristal putih (GKP) dalam negeri lantaran isu merembesnya gula rafinasi  ke pasar untuk konsumsi.

Untuk komoditas garam, Dwi mengaku heran karena pemerintah masih membuka keran impor dalam jumlah yang cukup besar. Sebab, petani garam di Indonesia saat ini seharusnya tidak mengalami gangguan yang berarti lantaran tidak terjadi perubahan kondisi alam yang ekstrim seperti tahun lalu.

 

Impor Pangan Indonesia Semester I/2018*

--------------------------------------------------------------------------------------------------

Komoditas                              Volume (ribu ton)      Nilai (juta US$)         

--------------------------------------------------------------------------------------------------

Beras                                       1.119,79                      524,29

Telur Unggas                           0,01                             0,85

Daging Jenis Lembu               77,07                           268,85                        

Cabai                                       19,05                           27,10

Susu                                        102,07                         231,63            

Gula                                        2.261,95                      850,23

Bawang Putih                         117,62                         153,29

Kedelai                                    1.167,94                      507,66

Jagung                                     280,93                         58,93

Biji Gandum dan Meslin         4.529,21                      1.132,39

Tepung Terigu                         31,90                           9,95

Garam                                     1.558,28                      52,08              

Minyak Goreng                       27,50                           31,20

Lada                                        0,64                             2,49

Mentega                                  11,46                           75,15  

Kentang                                  20,62                           10,67

--------------------------------------------------------------------------------------------------

*) Keterangan: angka sementara

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS), 2018

 

Tag : impor pangan
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top