Pimpinan DPR Minta Pemerintah Benahi Angkutan Perairan

Berselang empat hari sejak terjadinya kasus tenggelamnya Kapal Motor (KM) Sinar Bangun, kecelakaan kembali terjadi di Danau Toba pada Jumat (22/6/2018) malam. Kali ini, KM Ramos Risma Marisi yang mengalami kecelakaan.
Jaffry Prabu Prakoso | 23 Juni 2018 12:57 WIB
Plt Ketua DPR Fadli Zon menyampaikan pidato dalam Sidang Paripurna DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (9/10). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA -- Berselang empat hari sejak terjadinya kasus tenggelamnya Kapal Motor (KM) Sinar Bangun, kecelakaan kembali terjadi di Danau Toba pada Jumat (22/6/2018) malam. Kali ini, KM Ramos Risma Marisi yang mengalami kecelakaan.

Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon prihatin atas kejadian tersebut dan meminta pemerintah membenahi transportasi laut termasuk danau.

“Pemerintah selalu mengklaim keberhasilan pembangunan tol laut, poros maritim, dan sejenisnya, tapi faktanya tingkat kecelakaan laut di Indonesia justru terus meningkat, khususnya angka kecelakaan kapal penumpang," katanya, Sabtu (23/6).

Berdasarkan catatan Fadli, pada Juni 2018 saja tercatat ada empat kasus kapal penumpang tenggelam. Selain kecelakaan KM Sinar Bangun dan KM Ramos, kurang dari sepekan sebelumnya KM Albert di Pulau Maspari, Sumatra Selatan (Sumsel) dan KM Arista di Perairan Gusung, Kecamatan Ujung Tanah, Makassar tenggelam. 

Dari empat moda transportasi, angka kecelakaan transportasi udara dan kereta api di Indonesia lah yang menunjukkan penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, untuk transportasi laut, kecelakaan pada tahun lalu disebut naik hampir 100% jika dibandingkan angka 2016.

Menurut data Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), para 2016 jumlah kecelakaan laut tercatat sebanyak 18 peristiwa. Tetapi, angkanya meningkat menjadi 34 kecelakaan pada 2017.

Sebagai catatan, jumlah kecelakaan laut sejak 2012-2017 terdata sebanyak 107 kecelakaan, terdiri dari kasus 29 kapal tenggelam, 40 kapal terbakar, 24 kapal tubrukan, 10 kapal kandas dan 4 lain-lain. Secara keseluruhan, jumlah korban meninggal sebanyak 931 orang dan korban luka-luka 631 orang.

Fadli melanjutkan penyebab utama terjadinya kecelakaan transportasi laut dan besarnya jumlah korban adalah akibat lemahnya pengawasan. Untuk kasus KM Sinar Bangun, kapal penumpang tak punya manifes tapi tetap diizinkan berlayar.

"Itu semua menunjukkan pengawasan sektor transportasi laut memang sangat minim. Pemerintah tidak boleh terus-menerus hanya mengurusi jalan tol atau bandara saja dan mengabaikan moda transportasi lainnya. Kecelakaan laut beruntun yang terjadi menjelang dan sesudah Lebaran ini perlu dievaluasi serius," tambahnya.

Tag : kapal tenggelam, Fadli Zon
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top