Lippo Jamin Proyek Meikarta Berlanjut

Lippo Group menjamin pelaksanaan megaproyek Meikarta di Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, masih sesuai dengan rencana dengan perizinan yang lengkap dan telah mengantongi komitmen dari para mitra strategis.
Emanuel B. Caesario | 22 Juni 2018 00:59 WIB
Proyek pembangunan mega proyek Meikarta, di Cikarang, Jawa Barat, Rabu (23/8/2017). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Lippo Group menjamin pelaksanaan megaproyek Meikarta di Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, masih sesuai dengan rencana dengan perizinan yang lengkap dan telah mengantongi komitmen dari para mitra strategis.

Ketut Budi Wijaya, Direktur Utama Lippo Karawaci, mengatakan proyek Meikarta sejak awal dirancang untuk menarik minat investor asing menanamkan modal. Proyek ini ditujukan untuk membangkitkan pasar properti yang sedang lesu dan menciptakan efek berantai bagi perekonomian nasional.

Dia mengutarakanmengatakan, sumber pendanaan proyek ini sama seperti halnya proyek-proyek Lippo lainnya yang melibatkan modal perseroan, dukungan investor strategis, dan pinjaman bank. Sejauh ini semua berjalan normal.

“Saya sampaikan ke bursa [BEI] bahwa proyek ini jalan terus. Itu yang penting. Isu perizinan sudah kami selesaikan, walaupun dari awal kami sampaikan ini bukan masalah. Apapun kekuarangannya, kami sudah penuhi. Kami sudah ada IMB [izin mendirikan bangunan] yang benar-benar IMB,” ujarnya pada Kamis (21/6/2018).

Tahun lalu, perseroan mengantongi Rp7,5 triliun dari hasil pemasaran Meikarta yang lantas diputar untuk dukungan modal proyek ini. Selain itu, perseroan juga mendapatkan suntikan modal mitra strategis.

“Tidak ada investor yang hengkang. Partnernya sudah ada di situ, mereka menguasai 49% dari proyek itu. Sudah ada injeksi modal dari partner kalau tidak salah sekitar Rp3,1 triliun. Untuk sementara, tentu pembiayaan akan sesuai dengan kemajuan proyek di lapangan,” paparnya.

Sementara itu, terkait saham perusahaan dengan kode emiten LPKR yang terus turun, Ketut menilai kondisi tersebut sangat erat dipengaruhi oleh dinamika global yang menyebabkan tingginya arus modal keluar dari investor asing.

Di sisi lain, industri properti dalam negeri juga masih menghadapi tantangan. Sementara itu, Bank Indonesia membuka kemungkinan kembali menaikkan suku bunga acuan, yang menambah sikap wait and see pasar. Isu politik juga menambah runyam suasana.

Saham LPKR pada perdagangan Kamis (21/6/2018) ditutup di level Rp336, level terendahnya dalam lima tahun terakhir. Tekanan pada saham LPKR juga didorong oleh penurunan peringkat perseroan oleh Moody’s Investor Service pada April lalu dari B1 menjadi B2 dengan outlook negatif, yang artinya kemungkinan penurunan lebih lanjut masih terbuka.

Ketut mengatakan penilaian Moody’s disebabkan karena lembaga tersebut melihat kinerja industri properti Indonesia yang secara umum melemah, sementara Lippo banyak bergantung pada satu proyek saja yakni Meikarta.

“Padahal, sales Meikarta tidak jelek-jelek amat. Orang lain belum jualan, kami sudah jual Rp7,5 triliun. Kami sampaikan ke Moody’s bahwa kami memiliki rencana lain. Kami memiliki banyak aset yang bisa kita jadikan cash. Kami ada plan untuk memenuhi tuntutan yang dipersyaratkan,” lanjutnya.

Tag : meikarta
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top