Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Produksi Cat Ramah Anak, Nippon Paint Andalkan Dua Pabrik

PT Nipsea Paint and Chemicals (Nippon Paint Indonesia) mengerahkan dua dari empat pabrik yang dimiliki memproduksi Nippon Spot-less Plus.
Anggara Pernando
Anggara Pernando - Bisnis.com 11 Juni 2018  |  16:17 WIB
Nippon Paint. - Reuters
Nippon Paint. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA—PT Nipsea Paint and Chemicals (Nippon Paint Indonesia) mengerahkan dua dari empat pabrik yang dimiliki memproduksi Nippon Spot-less Plus. 

Mark Liew, Assistant General Manager Nippon Paint Indonesia, menyampaikan pabrik yang khusus memproduksi cat ramah anak itu terdapat di Purwakarta dan Surabaya. 

Mark, belum lama ini mengatakan, perusahaan memiliki kapasitas produksi 250.000 ton per tahun. Selain itu perusahaan memiliki 35 kantor pemasaran dan mempekerjakan 3.000 karyawan. Menurut Mark, formula silver-Ion yang diusung dalam cat yang baru diperkenalkan di pasar ini berfungsi menghalang penyebaran bakteri pada dinding. Selain itu, Nippon Paint mengusung konsep mudah dibersihkan dan tidak mengandung bahan volatile organic compund yang mengganggu pernafasan. 

"Sehingga balita yang belajar berjalan dapat dengan aman menyentuh setiap permukaan dinding di rumah," katanya.

Sebelumnya, pemerintah optimistis sektor industri kimia, tekstil, dan aneka (IKTA) masih tumbuh positif hingga akhir tahun. Sepanjang kuartal I/2018, sektor ini tumbuh namun pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada 3 bulan pertama tahun lalu, sektor IKTA tumbuh sebesar 5,16% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh sektor industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia sebesar 10,40%.

Achmad Sigit Dwiwahjono, Dirjen IKTA Kementerian Perindustrian, mengatakan pada kuartal I tahun ini, sektor kimia justru menurun 12%, sehingga menyebabkan pertumbuhan IKTA secara keseluruhan berada di bawah angka pertumbuhan tahun lalu. 

"Yang down itu kimia karena impor mencapai US$20 miliar, kalau dolar naik bahan baku juga naik. Petrokimia misalnya, dulu harga minyak dunia di bawah US$50 per barel, sekarang US$60—US$70, padahal bahan baku itu 90% impor," katanya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

nippon paint
Editor : Ratna Ariyanti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top