Summarecon Minta BI Dorong Bisnis Properti

PT Summarecon Agung Tbk dengan kode saham SMRA mengusulkan agar wacana relaksasi loan to value atau LTV dari Bank Indonesia bisa menggenjot percepatan bisnis properti PT Summarecon Agung Tbk.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 07 Juni 2018 16:43 WIB
Summarecon Mal Bekasi - summarecon.com

Bisnis.com, JAKARTA – PT Summarecon Agung Tbk dengan kode saham SMRA mengusulkan agar wacana relaksasi loan to value atau LTV dari Bank Indonesia bisa menggenjot percepatan bisnis properti PT Summarecon Agung Tbk.

Presiden Direktur PT Summarecon Agung Tbk, Adrianto Adhi mengatakan agar Bank Indonesia (BI) bisa memutuskan relaksasi LTV yang ideal sesuai dengan masukan para pengembang. Menurut Adrianto, sekalipun BI memberikan kebijakan menaikkan suku bunga, dia memandang keputusan itu merupakan respons terhadap penurunan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

“Kami sadar akibat kenaikan suku bunga acuan bisa membuat bunga menjadi naik. Kalau bunga naik, daya beli masyarakat menurun. Jika pemimpin Bank Indonesia sekarang pro pertumbuhan, dia harus bertanggung jawab atas pertumbuhan KPR. Semoga bank tidak menaikan bunga karena bisa membuat bisnis properti stagnan,” ujar Adrianto di Klub Kelapa Gading, Kamis (7/6/2018).

Menurut dia, Summarecon Agung sebagai salah satu pengembang besar di Indonesia berharap kebijakan BI tidak hanya sebatas memberikan KPR rumah kedua. Selain itu, BI perlu membuka semua peluang supaya bisnis properti bisa bertumbuh. Menurut dia, LTV juga perlu mengatur pencairan dana terkait inden rumah kedua.

“Sekarang kan begitu, fondasi 40% bertahap. Kalau mau pembayaran, kita sudah ada tanahnya ada di kita. Sehingga sebetulnya, kita sign mengenai KPR ada satu, 40%-50% tanah kita. Sisanya bertahap sesuai progress pembangunan. Semestirnya BI memahami bisnis properti juga bukan hanya bangunan tetapi tanah, surat-surat juga harus selesai tidak hanya dari kami tetapi juga sesuai dengan di BPN [Badan Pertanahan Nasional],” jelas Adrianto.

Dia menambahkan bahwa rencana BI akan melonggarkan LTV membuat pasar sudah positif menanggapinya. Dia berharap wacana itu bisa terealisasi. Perusahaan juga tak lupa berkomunikasi memberikan masukan kepada BI dan bisa mempengaruhi bisnis Summarecon.

Sebagai informasi, SMRA pada 2017 lalu berhasil meraup marketing sales Rp3,6 triliun. Tahun ini, SMRA memacu marketing sales menjadi Rp4 triliun dengan cara menciptakan inovasi produk yang diberikan untuk masyarakat.

Adrianto menyebut saat ini jumlah pembeli dari kalangan investor cenderung mengalami penurunan akibat dari isu tahun politik jelang Pilkada serentak dan Pemilu. Sebaliknya, properti di Indonesia masih terselamatkan dengan profil pembeli dari kalangan first home buyer yang terdiri dari end user dan upgrader. Oleh sebab itu, SMRA saat ini gencar memasarkan produk dibawah Rp2 miliar, umumnya berkisar pada Rp600 juta sampai Rp1 miliar yang berlokasi di Summarecon Karawang.

“Saya rasa ini dihadapi semua pengembang yang hadapi ujian berat. Kita juga dalam mencapai, 3,6 T kita bersyukur bahwa capaian ini berkat kerja keras kita dan bagaimana mengkaji strategi menjaga penjualan kita,” terang Adrianto.

Tag : summarecon property, ltv, kebijakan bi
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top