Kapasitas Hampir Penuh, Terminal Teluk Lamong Tahap II Siap Dibangun

PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) akan memulai pembangunan tahap kedua Terminal Teluk Lamong pada paruh kedua 2018. Kapasitas lapangan penumpukan di Teluk Lamong perlu ditambah karena arus barang domestik makin pesat.
Rivki Maulana | 25 Mei 2018 16:19 WIB
PT Terminal Teluk Lamongan - Jibi

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) akan memulai pembangunan tahap kedua Terminal Teluk Lamong pada paruh kedua 2018. Kapasitas lapangan penumpukan di Teluk Lamong perlu ditambah karena arus barang domestik makin pesat.

Direktur Komersial & Operasional Pelindo III, Mohammad Iqbal mengatakan saat ini kapasitas lapangan peti kemas domestik di Teluk Lamong telah terisi 450.000 TEUs atau 90% dari kapasitas. Dia mengungkapkan, arus barang di Pelabuhan Tanjung Perak di atas prediksi perseroan sehingga kapasitas beberapa terminal sudah hampir penuh.

"'Ini urgen karena di terminal BJTI [Berlian Jasa Terminal Indonesia-anak usaha Pelindo III] sudah tidak bisa menampung," jelasnya kepada Bisnis.com, Jumat (25/5/2018).

Untuk diketahui, Pelindo III mengelola sejumla terminal di Pelabuhan Tanjung Perak. Selain Teluk Lamong, Pelindo III juga mengelola Terminal Peti Kemas Surabaya (TPS) dan Terminal Jamrud, Terminal Nilam, dan Terminal Mirah.

Iqbal menuturkan, pembangunan tahap kedua Terminal Teluk Lamong untuk peti kemas domestik bakal rampung dalam dua tahun.

Dia menyebut, lapangan penumpukan baru bakal memiliki kapasitas 500.000 TEUs. Setelah rampung dibangun, lanjut Iqbal, lapangan baru itu akan langsung mendapat limpahan arus barang sebanyak 250.000 TEUs.

Secara umum, arus peti kemas di pelabuhan-pelabuhan yang dikelola Pelindo III tumbuh 4% menjadi 1,24 juta TEUs pada kuartal I/2018. Adapun arus peti kemas domestik sejauh ini didominasi rute-rute ke Kawasan Indonesia Timur (KTI). Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di kawasan tersebut menurut Iqbal turut merangsang peningkatan arus barang.

Ke depan, Pelindo III memprediksi arus barang ke KTI akan tetap tinggi. Terlebih, tren harga batu bara yang meningkat membuat wilayah Kalimantan juga akan kembali menggeliat. Iqbal mengatakan, secara historis pergerakan harga batu bara menjadi faktor penting bagi perekonomian Kalimantan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
lamongan

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top