Permintaan Perumahan Lansia di Asia Meningkat

Pergeseran demografis Asia dengan angka populasi lansia yang meningkat mengakibatkan meningkatnya permintaan perumahan lansia di Asia.
Finna U. Ulfah | 20 Mei 2018 18:29 WIB
Ilustrasi - Futuretimeline.net

Bisnis.com, JAKARTA – Pergeseran demografis Asia dengan angka populasi lansia yang meningkat mengakibatkan meningkatnya permintaan perumahan lansia di Asia.

Asia Managing Director of Valuation and Advisory Services at Colliers International David Faulkner dalam laporan Senior Housing Outlook 2018 mengatakan Asia sedang menghadapi krisis penuaan generasi yang ditandai dengan meningkatnya harapan hidup dan angka kelahiran yang rendah di beberapa negara.

“Akibat dari krisis ini, muncul peningkatan kebutuhan untuk perumahan senior atau lansia di Asia,” ujar David dikutip dari laporannya, Minggu (20/5/2018).

Populasi masyarakat senior di Asia, populasi yang berusia 65 tahun ke atas, diprediksi akan meningkat hampir tiga kali lipat pada tahun 2050 dengan total 945 juta jiwa, sedangkan jumlah orang yang berusia 75 tahun ke atas akan melonjak dari 137 juta jiwa menjadi 437 juta jiwa.

Adapun di Jepang, populasi lansia diprediksi akan terdiri dari 36,4%  dari total populasi pada 2050. Kemudian diikuti oleh negara-negara asia lainnya seperti, Korea Selatan 35,3%, Hong Kong 33,9%, Singapura 33,6%, dan Thailand 29% dari total populasi yang ada.

David mengatakan budaya masyarakat Asia yang masih kental seperti tradisi anak yang merawat orangtua dan menyewa asisten rumah tangga seperti pengasuh khusus yang menyebabkan sedikitnya permintaan terhadap fasilitas hunian berkebutuhan khusus bagi lansia selama ini.

Namun, norma-norma ini, katanya, mungkin berubah dengan adanya tren migrasi di mana banyak anak yang merantau meninggalkan orang tua mereka di negara asalnya, sehingga permintaan untuk perumahan lanjutan bagi lansia cenderung tumbuh.

Selain itu, seiring dengan penuaan generasi di Asia dan pada saat yang sama tercapainya kehidupan yang makmur,  David juga menambahkan pemerintah dan pengembang harus mulai membuka mata terhadap opsi perumahan senior terutama untuk kelas menengah, segmen yang berkembang cepat di sebagian besar wilayah Asia.

“Dengan harga properti yang melonjak di pasar, segmen ini mungkin tidak memiliki akses subsidi yang memadai atau fasilitas umum untuk perawatan lansia, bahkan mungkin akan dikenakan harga yang lebih mahal dari apa yang bisa mereka berikan,” ujar David

Pemerintah harus tetap siaga adanya lonjakan permintaan perumahan dengan memberikan solusi yang baik bagi populasi lansia untuk semua segmen.

“Pembuat kebijakan dan pengembang harus menyesuaikan rencana yang baik dan sesuai untuk menangangi krisis ini,” tutur David.

Tag : Rumah Lansia
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top