Kuartal I/2018, Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronik Naik 3,76%

Sektor industri logam, mesin, alat transportasi, dan elektronik mencatatkan pertumbuhan 3,76% sepanjang kuartal I/2018. Industri komputer, barang elektronik, dan optik merupakan subsektor yang mengalami kontraksi paling dalam.
Annisa Sulistyo Rini | 20 Mei 2018 17:36 WIB
Aktivitas karyawan di pabrik karoseri truk di kawasan industri Bukit Indah City, Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (13/2). - Bisnis.com/NH

Bisnis.com, JAKARTA—Sektor industri logam, mesin, alat transportasi, dan elektronik mencatatkan pertumbuhan 3,76% sepanjang kuartal I/2018. Industri komputer, barang elektronik, dan optik merupakan subsektor yang mengalami kontraksi paling dalam.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kemenperin peran sektor Ilmate berkontribusi sebesar 26,70% terhadap pertumbuhan industri nonmigas pada periode Januari—Maret 2018.

Subsektor yang mengalami pertumbuhan paling besar adalah industri mesin dan perlengkapan, yaitu sebesar 14,98% y-o-y, dan disusul oleh industri logam dasar yang sebesar 9,94% y-o-y. Industri barang logam bukan mesin tumbuh 4,84% y-o-y dan industri kendaraan bermotor tumbuh 2,88% y-o-y.

Industri mesin dan perlengkapan tumbuh 14,98% sejalan dengan peningkatan kinerja bisnis mesin konstruksi dan pertambangan sebagai dampak dari peningkatan aktivitas kedua lapangan usaha tersebut. Industri logam dasar meningkat karena pembangunan smelter, peningkatan harga komoditas logam, dan peningkatan realisasi investasi pada kuartal I/2018.

Sementara itu, penurunan yang terjadi pada industri komputer, barang elektronik, dan optik disebabkan oleh peningkatan impor yang besar, sehingga berimbas pada penurunan produksi di industri besar dan sedang.

Doddy Rahadi, Direktur Industri Logam Kemenperin, mengatakan pihaknya terus menggalakkan hilirisasi di sektor logam untuk mendorong pertumbuhan sektor Ilmate yang lebih tinggi. Salah satu upaya yang dilakukan Kemenperin bersama kementerian dan lembaga terkait adalah melakukan percepatan dan alih teknologi investasi untuk akselerasi hilirisasi.

“Cadangan sumber daya alam Indonesia terbatas, bahkan yang ada sekarang hanya cukup untuk sekian tahun ke depan. Sekarang diarahkan ke hilirisasi, untuk yang bangun smelter, kami wajibkan bangun hilirnya juga,” katanya, pekan lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri

Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top