Irigasi Pintar untuk Lahan Suboptimal Segera Diluncurkan

Paket smart irrigation berupa alat dan teknologi irigasi lahan suboptimal segera diluncurkan. Teknologi ini diharapkan menjadi solusi teknologi irigasi pintar bagi pertanaman tebu dan komoditas lainnya di lahan suboptimal.
Sri Mas Sari | 26 April 2018 20:35 WIB
Buruh memanen tebu untuk dikirim ke pabrik gula di Ngawi, Jawa Timur, Selasa (8/8). - ANTARA/Ari Bowo Sucipto

Bisnis.com, JAKARTA -- Paket smart irrigation berupa alat dan teknologi irigasi lahan suboptimal segera diluncurkan. Teknologi ini diharapkan menjadi solusi teknologi irigasi pintar bagi pertanaman tebu dan komoditas lainnya di lahan suboptimal.

Peluncuran akan dilakukan oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman pada 8 Mei di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan). BBP Mektan merupakan penemu alat tersebut.

Kepala BBP Mektan Andi Nur Alamsyah menuturkan kunci pengelolaan lahan suboptimal adalah teknologi irigasi yang pintar. Contoh lahan suboptimal adalah lahan rawa, pasang-surut, kering, kering masam, salin, dan di bawah tegakan.

Salah satu area lahan suboptimal yang kini tengah dikembangkan oleh pemerintah adalah perkebunan tebu di Bombana, Sulawesi Tenggara.

“Di sana penggunaan air harus digunakan secara minimal karena sumber air yang terbatas. Dibutuhkan teknologi irigasi yang bisa mengalirkan air secara efisien, tetapi tetap bisa menghasilkan,” kata Andi dalam siaran pers, Kamis (26/4/2018).

Irigasi Bawah Tanah

Paket smart irrigation terdiri atas alat tanam tebu dan pemasang dripline irigasi terintegrasi, yang menggunakan sistem irigasi bawah tanah (subsurface).

Smart irrigation yang terpasang di BBP Mektan menggunakan instalasi irigasi tetes yang dilengkapi dengan pengatur debit tetesan air, pengatur dosis pupuk, dan sensor kebutuhan air yang terintegrasi dan dikendalikan secara otomatis.

Tipe irigasi tetes yang digunakan adalah tipe subsurface, yakni slang penetesnya (dripline) ditanam pada kedalaman 15-17 cm dari permukaan tanah.

Sistem irigasi dripline tersebut dipasang bersamaan dengan bertanam tebu agar efisien tenaga kerja. Setelah dipasang dripline, alat ini ditarik dengan traktor roda empat sambil bertanam tebu.

“Bibit tebu sendiri ditanam 5 cm di atas dripline dan alsin, dilengkapi dengan pembuka alur dan penutup alur sehingga dalam satu kali operasional bisa melakukan dua pekerjaan sekaligus,” katanya.

Dalam mengoperasikan alsintan ini, hanya perlu 2-3 operator, yang mana satu orang sebagai operator traktor, dua orang operator bibit. Alat ini mampu mengerjakan lahan seluas 2 ha dalam satu hari sehingga efisien dalam hal waktu dan tenaga kerja.

Meskipun demikian, Andi menyarankan alsintan ini bisa digunakan pada tanah berpasir.

“Kalau tanah berpasir, mau hujan atau tidak, enggak masalah. Tapi kalau tanahnya berlempung tinggi, sebaiknya pengoperasian alat dilakukan saat kering," tuturnya.

Pada pertanian skala besar, irigasi tetes cocok untuk sistem pertanian berjajar, untuk buah-buahan, juga sistem irigasi di dalam greenhouse.

Kepala Bidang Kerjasama, Pendayagunaan Perekayasaan dan Pengujian BBP Mektan Agung Prabowo menambahkan model pengairan pada pertanaman tebu yang umum digunakan selama ini adalah irigasi permukaan, salah satunya dengan memompa air embung, kemudian dialirkan melalui pipanisasi dan lahan kemudian digenangi. Model pengairan lainnya dengan menggunakan big gun sprinkler.

“Jika menggunakan irigasi tetes, pengairan dilakukan di sekitar perakaran sehingga air yang diteteskan hanyalah sebatas kebutuhan air tanaman saja," jelasnya.

Tag : irigasi
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top