Potensi Permintaan CPO Global Hingga 2025 Masih 5 Juta Ton Per Tahun

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriono mengatakan, permintaan minyak sawit (nabati) masih tinggi karena potensi permintaan global ini masih mencapai 5 juta ton per tahun hingga 2025.
Martin Sihombing | 23 April 2018 17:34 WIB
Ketua Umum Gapki Joko Supriyono. - nasionalisme.co

Bisnis.com, MAKASSAR -  Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriono mengatakan, permintaan minyak sawit (nabati) masih tinggi karena potensi permintaan global ini masih mencapai 5 juta ton per tahun hingga 2025.

"Potensi minyak sawit ini, bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di Indonesia," ujarnya dalam keterangan persnya, Senin (23/4/2018).

Pada pelantikan pengurus Pusat, Dewan Pengawas dan Dewan Pembina GAPKI periode 2018-2023 disebutkan, peluang pertumbuhan permintaan tersebut bisa direalisasikan dengan mengamankan, menjaga dan mengembangkan pasar.

Selain itu, juga perlu dukungan pemerintah melalui kerja keras semua pemangku kepentingan untuk memanfaatkan momentum tersebut.

Hanya saja, kata Joko, selain potensi itu, sejumlah persoalan seperti rendahnya produksi CPO, iklim berusaha yang tidak kondusif serta pasar yang tidak ramah masih terus membayangi.

Menurut Joko, secara nasional, produktivitas sawit di Indonesia belum maksimal.

Mengutip data Masyarakat Sawit Indonesia (Maksi) menunjukkan produktivitas nasional sawit Indonesia berada pada peringkat ke-4 di bawah Malaysia, Kolombia dan Thailand.

"Indonesia hanya lebih baik dari Nigeria. Bahkan production cost US$/ton CPO perusahaan Indonesia yang terbaik masih kalah dengan perusahan Malaysia yang terjelek," kata Joko.

Faktor lain yang dihadapi Indonesia adalah tingginya biaya akibat berbagai hal seperti infrastruktur, perizinan, biaya sosial dan keamanan. Hal itu sulit dihindari, tetapi juga sulit dipecahkan. Padahal,berbagai regulasi dan perizinan yang sudah diperbaiki, tetapi investasi tidak juga berjalan dengan cepat.

"Persoalan ini, terutama terjadi di pemerintah daerah. Kita sudah comply dengan perizinan tapi masih disalahkan. Kita sudah memenuhi semua persyaratan sesuai prosedur, tapi izin tidak kunjung terbit," kata Joko.

Pasar yang tidak ramah juga masih akan membayangi industri sawit ke depan. Bahkan, pada 2017 India yang merupakan pasar ekspor terbesar Indonesia memberlakukan hambatan tarif yang cukup besar.

Begitu juga dengan pasar Eropa sebagai market share yang cukup besar dari waktu ke waktu selalu memunculkan berbagai hambatan perdagangan baik yang bersifat tarif maupun non tarif.

Dalam kesempatan itu, Joko juga mengukuhkan kepengurusan Gapki periode 2018-2023. Pengurus Pusat GAPKI 2018-2023 (Inti) diantaranya Ketua Umum Joko Supriyono, Wakil Ketua I (Urusan Organisasi) Kacuk Sumarto, Ketua Bidang Organisasi dan Kerjasama Asosiasi Hinsantopa Simatupang, Ketua Bidang Komunikasi Tofan Mahdi, Ketua Bidang Advokasi dan Hukum Yunita Sidauruk.

Sumber : ANTARA

Tag : minyak sawit
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top