Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bintan Aerospace Park Terbentur Masalah Infrastruktur Pendukung

Pengembangan Bandara Bintan sebagai kawasan industri penerbangan (industrial aerospace park) dinilai masih membutuhkan infrastruktur pendukung yang memadai.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 26 Maret 2018  |  17:56 WIB
Direktur Utama PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin meninjau lokasi landas pacu Bandara Bintan yang digarap oleh PT Bintan Aviation Investments (Salim Group) di Kabupaten Bintan Kepulauan Riau, Jumat (23/3/2018). Angkasa Pura II bakal menjadi operator Bandara Bintan yang ditargetkan beroperasi pada 2020 - Hendra Wibawa
Direktur Utama PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin meninjau lokasi landas pacu Bandara Bintan yang digarap oleh PT Bintan Aviation Investments (Salim Group) di Kabupaten Bintan Kepulauan Riau, Jumat (23/3/2018). Angkasa Pura II bakal menjadi operator Bandara Bintan yang ditargetkan beroperasi pada 2020 - Hendra Wibawa

Bisnis.com, JAKARTA—Pengembangan Bandara Bintan sebagai kawasan industri penerbangan (industrial aerospace park dinilai masih membutuhkan infrastruktur pendukung yang memadai.

CEO Arista Indonesia Aviation Center (AIAC) Arista Atmadjati mengatakan selama ini Bintan lebih dikenal sebagai kawasan pariwisata yang menyediakan fasilitas resort bagi wisatawan.

"Tentu fasilitas yang dibutuhkan akan jauh berbeda dengan kebutuhan aerospace park," katanya hari ini Senin (26/3/2018).

Dia menambahkan perlu area yang sangat luas guna membangun hanggar terpadu. Akan tetapi, lahan yang digunakan untuk aerospace park harus terpisah dengan kawasan wisata agar tidak saling mengganggu.

Pasokan tenaga listrik dinilai harus menjadi salah satu faktor utama dalam operasional aerospace park. Produktivitas industri bisa terganggu jika pasokan listrik tidak stabil atay kurang mencukupi kebutuhan.

Selain itu, layaknya kawasan industri, Bintan membutuhkan tenaga kerja yang kompeten mulai dari level teknisi hingga profesional di bidang penerbangan. Kebutuhan tenaga kerja harus didatangkan dari wilayah lain karena belum ada sekolah penerbangan untuk level teknik di Kepulauan Riau.

Kebutuhan tenaga kerja, lanjutnya, harus didukung dengan penyiapan perumahan atau fasilitas lain seperti layanan kesehatan, pendidikan, hingga pemenuhan kebutuhan pangan. Hal tersebut dilakukan agar kebutuhan keluarga tenaga kerja terjamin.

Arista menilai pelabuhan bisa menjadi pendukung untuk aktivitas pengiriman komponen atau suku cadang pesawat keperluan industri perawatan  atau MRO (maintenance repair overhaul). Kendati tidak vital, pelabuhan yang memadai bisa untuk mengantisipasi pengiriman barang dari Singapura.

Saat ini Bintan sudah memiliki Pelabuhan Sri Bayintan Kijang yang dikelola oleh PT Pelindo I (Persero) sebagai persinggahan wisatawan menuju pulau-pulau yang menjadi tujuan destinasi wisata. Pelabuhan yang memiliki kapasitas lapangan penumpukan peti kemas (container yard/CY) sebesar 6.000 m2 perlu disesuaikan untuk keperluan impor.

"Bintan untuk dikembangkan menjadi industrial aerospace park harus kerja keras. Perlu ada percepatan pembangunan sejumlah fasilitas," ujarnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bintan
Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top