Asosiasi Pengembang Gandeng Rantai Pasok Atasi Fluktuasi Harga

Sejumlah asosiasi pengembang meyakini dengan menggandeng sejumlah pengusaha rantai pasok perlu dilakukan untuk menciptakan kestabilan harga bahan bangunan dan mempercepat pembangunan.
Anitana Widya Puspa | 26 Maret 2018 20:32 WIB

Bisnis.com,JAKARTA—Sejumlah asosiasi pengembang meyakini dengan menggandeng sejumlah pengusaha rantai pasok perlu dilakukan untuk menciptakan kestabilan harga bahan bangunan dan mempercepat pembangunan.

Ketua Umum Asosiasi Pengembang Indonesia (PI) Barkah Hidayat menuturkan saat ini perusahaan yang bergabung dalam asosiasinya tidak hanya khusus pengembang namun juga merangkul perusahaan rantai pasok bahan bangunan seperti pabrik semen,keramik, cat, beton ringan, baja ringan, dan lainnya.

Asosiasi, kata dia, telah bekerja sama dengan Bank BTN untuk menerbitkan kartu keanggotaan yang dapat memberikan harga spesial dan sistem pembayaran khusus di antara sesama anggotanya. Dia menuturkan harga spesial ini berupa diskon hingga 3% untuk pembelian material, kemudian untuk pembayarannya bisa dilakukan sebesar 50% di awal dan 50% ketika selesai akad kredit di perbankan.

“Kami tentu harus memiliki diferensiasi dengan merangkul rantai pasok, pasokan perumahan  lebih ditekan harganya dan jumlah unit produksinya bisa dua kali,” katanya kepada Bisnis Senin (26/3).

Saat ini asosiasi ini tercatat memliki keanggotaan 430 perusahaan, 90% merupakan pengembang dan sisasinya perusahaan rantai paosk. Untuk pengembang sedniri, mayoritas 80%-nya merupakan pengembang rumah subsidi.

Tahun ini  PI memiliki target membangun 46.200 unit perumahan yang bisa berkontribusi terhadap program satu juta rumah. Banyak  anggotanya tersebar di Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Banten, Jawa Tengah, Sumatra Selatan, Bangka Belitung dan lainnya.

Senada Real Estate Indonesia atau REI juga akan mencoba  menggandeng salah satu pabrik semen itu Semen Conch yang sudah memiliki cabang sampai Manokwari, Papua guna mengendalikan harga.

“Kami kerja sama dengan Semen Conch untuk pembangunan rumah MBR, karena kalau ke berbagai daerah harganya kan tinggi, takutnya malah tak terealisasi. Lagipula ini agar konsisten menjaga target 1 juta rumah MBR,” ungkap Paulus kepada Bisnis, Minggu (25/3/2018).

Paulus menilai saat ini yang terjadi  adalah kebutuhan semen tidak berkurang namun pabrik semen semakin banyak yang membuka cabang di daerah tertentu untuk efisiensi. Dia mengatakan selama ini yang terjadi selama berpuluh-puluh tahun, pada saat tertentu suplai semen kosong dan menyebabkan harga naik. Namun sekarang suplai sangat mencukupi dan harusnya harga lebih stabil dan hal itulah yang diperlukan industri ini.

Dia mengakui, REI belum banyak membahas permasalahan yang menimpa pengembang besar ataupun pengembang dengan segmen menengah ke atas. Salah satunya terkait masalah kenaikan harga besi yang membebani pengembang apartemen di sejumlah lokasi.

Tag : bahan bangunan
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top