2018, Meikarta Targetkan Jual 80.000 Unit

Lippo Group menargetkan pada 2018, megaproyek Meikarta bisa terjual 80.000 unit atau naik 33,3% dari penjualan unit pada 2017.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 20 Maret 2018 21:52 WIB
Siluet pekerja di kawasan Proyek Meikarta, Cikarang, Jawa Barat, Kamis (17/8). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Lippo Group menargetkan pada 2018, megaproyek Meikarta bisa terjual 80.000 unit atau naik 33,3% dari penjualan unit pada 2017.

CEO Lippo Group James Riady mengatakan tahun ini perusahaan menargetkan peningkatkan penjualan unit di Meikarta sebanyak 33,3% dari tahun lalu. Dia mengatakan penjualan unit Meikarta selama ini menorehkan angka yang cukup baik.

“Diharapkan tahun ini bisa menjual lagi 80.000 unit,” kata James di Hotel Aryaduta, Selasa (20/3/2018).

Dia menyebut pada tahun lalu saja, penjualan Meikarta mencapai 140.000 unit. Namun, unit yang berhasil menyelesaikan proses pembelian secara administratif sampai selesai hanya 60.000 unit.

“Kita mengetahui bahwa proses KPA lama. Ini tidak pernah jual begitu banyak masih dikejar sekarang 60,000 unit dari adminstrasi dan selesai. Karena harus tanda tangan akad kredit, penjualan takes time,” tutur James.

Sebagai informasi, James mengakui bahwa perusahaan juga telah menjual saham kepemilikan Meikarta kepada investor asing. Dia memperkirakan total investasi yang telah dijual sekitar 50%. Menurutnya, perusahaan memiliki filsafat bertumbuh dengan kemitraan.

Sejak awal, Meikarta merupakan proyek kerjasama dari PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) dan PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK). Proyek senilai Rp278 triliun ini adalah milik PT Mahkota Sentosa Utama yang sepenuhnya merupakan anak usaha dari LPCK.

Ada pun LPKR menguasai saham LPCK mencapai 54%. Pada Januari 2018 lalu, PT Mahkota Sentosa Utama LPCK menerima pembayaran Rp2,5 triliun dari investor eksternal sebagai uang muka pembelian saham. Investor tersebut membayar total saham mencapai Rp4 triliun. Pasca transaksi tersebut, kepemilikan Lippo di Meikarta turun 27% dari sebelumnya 54%.

“Saham Meikarta memang kemitraan, dan dari awal sudah demikian. Efektifnya sesuai dengan setelah adanya persetujuan-persetujuan. Dan tentunya Meikarta kan harus perform dong, penjualannya harus. Tetapi dari awal sudah ada, tetapi sekarang baru dia orang ambil. Karena dia ambil, maka harus lapor ke OJK [Otoritas Jasa Keuangan],” terang James.

Dia mengungkapkan sumber pendanaan terbesar yang selama ini membantu pembangunan Meikarta adalah pre-selling unit, modal perusahaan, dan bantuan mitra perusahaan. Ada pun komposisi terbesar pendanaan adalah pendanaan sendiri dan pre-selling unit.

Oleh sebab itu, Meikarta tidak memiliki hutang karena selalu mengandalkan modal sendiri. Untuk meminimalisir potensi hutang, James berstrategi mencari partner untuk pembangunan proyek tersebut. Menurut James, ada banyak investor asing dari berbagai negara yang ikut menanam investasi di Meikarta. Tidak hanya investor asal Cina ataupun Singapura.

Tag : meikarta
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top