Harga Batu Bara: Produsen Pasang Asumsi Tinggi

Tingginya harga batu bara hingga awal 2018 memicu tingginya optimisme para produsen. Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan asumsi harga batu bara yang dipakai oleh para produsen bermacam-macam. Namun, umumnya memasang asumsi yang tinggi.
Lucky Leonard | 15 Februari 2018 17:41 WIB
Aktivitas di area pertambangan batu bara PT Adaro Indonesia, di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, Selasa (17/10). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Tingginya harga batu bara hingga awal 2018 memicu tingginya optimisme para produsen.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan asumsi harga batu bara yang dipakai oleh para produsen bermacam-macam. Namun, umumnya memasang asumsi yang tinggi.

"Asumsinya memang beda-beda, tapi mereka positif. Ada yang kisaran US$90 per ton," ujarnya kepada Bisnis, Kamis (15/2/2018).

Berdasarkan data Kementerian ESDM, HBA Febuari 2018 ditetapkan senilai US$100,69 per ton atau naik 5,39% dari HBA Januari senilai US$95,54 per ton. HBA tersebut jadi yang tertinggi sejak Desember 2016 yang berada pada level US$101,69 per ton.

Sebelum Desember 2016 tersebut, HBA terakhir kali menyentuh level US$100 per ton pada Mei 2012, tepatnya US$102,12 per ton. Setelah itu, harga batu bara terus merosot hingga akhirnya mulai bangkit pada pertengahan 2016.

Jika dirata-ratakan, dalam dua bulan pertama 2018 ini HBA telah berada pada level US$98,12 per ton atau berada di atas rata-rata HBA sepanjang 2017 senilai US$85,92 per ton. Apalagi jika dibandingkan dengan rata-rata HBA pada 2016 yang hanya senilai US$61,84 per ton.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi menuturkan kenaikan HBA pada bulan ini sesuai dengan kenaikan di indeks-indeks internasional pembentuknya. Adapun keempat indeks penyusun tersebut adalah Indonesia Coal Index (ICI), New Castle Global Coal (GC), New Castle Export Index (NEX), dan Platts59 dengan masing-masing indeks memiliki bobot 25%.

Dia menjelaskan peningkatan permintaan batu bara dari China memicu kenaikan harga pada indeks-indeks tersebut. Hal itu disebabkan penggunaan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang juga meningkat.

"Permintaan dari China memang naik. Salah satunya itu, banyak yang sebelumnya pakai pembangkit EBT [energi baru terbarukan] balik lagi ke PLTU," terangnya.

Tag : harga batu bara
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top