Kecelakaan Konstruksi Marak, Pebisnis Curiga Ada Penyusupan Baja Non-SNI

Pebisnis baja menilai ketegasan penerepan Standar Nasional Indonesia (SNI) sangat penting karena Indonesia kian dibanjiri produk baja dengan kualitas rendah.
Kurniawan A. Wicaksono & Thomas Mola | 13 Februari 2018 11:38 WIB
Ilustrasi - Suasana di lokasi launching girder (alat angkat proyek) yang jatuh pada proyek pembangunan jalur ganda kereta ManggaraiJatinegara, di Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (4/2). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (The Indonesia Iron and Steel Industry Association/IISIA) Hidayat Triseputro mengatakan, ketegasan penerepan Standar Nasional Indonesia (SNI) sangat penting karena Indonesia kian dibanjiri produk baja dengan kualitas rendah.

Kehadiran produk baja yang tidak berkualitas dengan harga murah sangat mengganggu pasar dan berbahaya bagi konsumen. Asosiasi, lanjutnya, menduga kuat banyaknya peristiwa kecelakaan kerja konstruksi salah satunya karena dugaan adanya penyusupan produk baja yang tak mengantongi SNI.

“Akhir-akhir ini banyak kecelakaan konstruksi. Khawatirnya, baja-baja itu tidak memenuhi SNI. Ada kekhawatiran bahan tidak berkualitas, sangat menggangu pasar dan berbahaya untuk keselamatan. Penegakan masalah SNI ini harus kencang,” katanya kepada Bisnis.

Hidayat mengaku cemas dengan Peraturan Menteri Perdagangan No.22/2018 tentang Ketentuan Impor Besi dan Baja. Menurutnya, pemerintah harus membuat regulasi yang ketat khususnya bagi baja karena merupakan industri yang khusus dan unik.

Baja, paparnya, sangat berbeda dengan produk industri lainnya sehingga pemerintah harus memikirkan juga para pelaku di dalam negeri dan minat investasi sektor baja di Tanah Air.

Jika pemerintah longgar dalam hal impor baja, investor tidak akan tertarik untuk berinvestasi di Indonesia mengembangkan industri baja. Hidayat berpendapat, pemerintah harus lebih mengutamakan produk lokal karena kapasitas produksi di dalam negeri belum optimal.

Dia mengklaim, saat ini pangsa baja impor di Tanah Air mencapai 25%, sedangkan kapasitas dalam negeri masih bisa ditingkatkan sehingga pemerintah harusnya mendorong pangsa pemain dalam negeri lebih besar lagi.

“Kalau bisa dioptimalkan di dalam negeri, kapasitas industri akan naik. Kemudian investasi bisa masuk untuk baja yang high end misalnya baja untuk rel kereta, alat berat dan lainnya yang high quality, sementara mungkin impor tidak masalah,” paparnya.

Enny Sri Hartati, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengatakan, pertumbuhan sektor manufaktur pada tingkat besar dan sedang (IBS) pada 2017 sebesar 4,74% atau lebih lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor industri dan manufaktur, menurutnya, bergerak di tempat dan cenderung menurun.

“Pemerintah mengganggap, industri kita nomor sekian di dunia. Tentu saja, size kita besar. Dibandingkan dengan total Asean juga kita masih gede tapi nilai ekspor kita masih kecil jika dibandingkan dengan negara lain,” paparnya.

Sumber : Bisnis Indonesia

Tag : manufaktur, baja, sni, iisia, kecelakaan konstruksi
Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top